Sabtu, 24 Maret 2018

Cinta yang Tidak Lagi Remaja

     Namanya Hatra. Aku pertama kali melihatnya ketika aku sedang menjemur pakaian di teras rumah. Dia melintas dan tatapan kami saling beradu sekilas. Kemudian dia sempat mencuri waktu untuk tersenyum ke arahku. Seolah sengaja ingin meninggalkan kesan di benakku kala itu.


'Siapa ya? Kok baru liat? Ah, paling cuma kebetulan lagi nongkrong bareng anak-anak lain di tongkrongan dekat sini.' gumamku. Aku bahkan tidak terpikir untuk segera membalas senyumnya.




***



       Beberapa hari kemudian aku tau kalau dia adalah tetangga baru tepat di sebrang rumahku. Ya, tepat di sebrang. Dan balkon di lantai dua masing-masing rumah kami menjadi saksi semakin seringnya kami saling mencuri pandang.


     Seringkali Hatra membiarkan pintu teras atasnya terbuka, kemudian duduk sambil bermain gitar di sana atau bahkan hanya sekedar untuk bersantai sambil menikmati cemilannya. Ah, dia sengaja! Sengaja supaya aku melihatnya. Dan sialnya, aku memang sering memerhatikannya dari balik jendela. Aku suka.


     Sesekali aku pun membuka jendela kamar dan memutar musik dengan volume yang cukup kencang. Ya, aku juga sengaja. Sekedar ingin memberitahu Hatra kalau aku ada.


   Di pagi hari, biasanya Hatra akan agak berteriak ketika menyapa teman yang menjemputnya ke rumah. Kemudian mereka akan berdiri berlama-lama di depan rumah sebelum berangkat ke sekolah. Lagi dan lagi seperti disengaja. Seperti sebuah cara menyampaikan pamit ala Hatra. Ah, aku bahkan mulai hafal dengan suaranya! Kemudian aku, dengan seragam putih-biruku, akan segera berlari menuju jendela dan diam-diam memandangi Hatra, dengan seragam putih-hitamnya. Lagi dan lagi aku suka.


    Begitulah. Hal-hal seperti itu seolah menjadi cara kami untuk saling berkomunikasi. Hhmm, mungkin lebih tepatnya untuk saling menunjukkan eksistensi.


    Pernah di satu kesempatan kami berpapasan. Setelah saling beradu pandang dan bertukar senyuman, untuk pertama kalinya Hatra memulai percakapan.


"Hai! Kenalin, gue Hatra." katanya.

"Iya, gue udah tau kok." timpalku santai.

"Gue juga udah tau nama lo Deya."

"Ya udah, berarti nggak perlu kenalan kan?" kataku meledeknya.

"Ya biar berasa resmi aja sih." jawabnya mulai kikuk.

"Oke." kataku. Kemudian kami berjabat tangan sambil mengucapkan nama masing-masing, selayaknya orang yang berkenalan.




***


       Berhari-hari berlalu setelah pertemuan itu. Tapi tidak banyak yang berubah. Kami masih menjaga tradisi komunikasi ala kami.


       Hingga di suatu sore, ketika aku memilih untuk bersantai di balkon lantai dua rumahku, ternyata Hatra pun melakukan hal yang sama di lantai dua rumahnya. Kami bisa saling melihat dengan begitu jelas. Saat itu hanya hujan yang menjadi tirai diantara kami. Tirai pemanis, tolong catat, bukan tirai penghalang. Hujan pun membuat jalanan di depan rumah kami sepi karena tidak ada yang berlalu lalang. Untuk beberapa saat, hanya ada aku, Hatra dan Hujan. Manis.


"Deya!" suara Hatra mengejutkanku. Aku menoleh ke arahnya tanpa mengucap satu kata pun. "Mau nggak jadi pacar gue?" tanyanya. Dia melafalkan kalimat itu dengan sangat jelas. Tentu saja agak berteriak karena kami sedang bersebrangan, bukan bersebelahan. Mungkin anggota keluarga di dalam rumahnya pun bisa dengar. Tapi aku berharap anggota keluarga di dalam rumahku tidak!


      Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Di sebrang sana, Hatra mencoba tetap so(k) cool, meski ternyata ekspresi bahagianya urung sembunyi. Lucu sekali! Dan aku mengakui, aku memang sudah jatuh hati.




***



     Hari-hari setelah itu tidak pernah menjadi kelabu untukku. Hatra sangat baik. Bahkan bisa dibilang terlalu baik!





     Jangan bayangkan aku dan Hatra adalah sepasang remaja yang kemana-mana selalu berdua. Jangan! Karena nyatanya Hatra lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya dibandingkan denganku. Begitu pun aku.





    Hatra lebih sering di rumah Maul, teman sekaligus tetangga kami. Orang tua Maul membuka usaha rental PS di rumahnya. Jadi, di sanalah Hatra dan anak-anak laki lainnya senang berkumpul.





     Sedangkan aku lebih sering di rumah Ria, yang juga teman sekaligus tetangga kami. Orang tua Ria membuka usaha warung makanan ringan dan menjual minuman jus di rumahnya. Jadi, di sanalah aku dan anak-anak perempuan lainnya senang berkumpul.





       Begitulah.
     Kami memiliki tempat berkumpul bersama teman kami masing-masing. Ya walaupun sebenarnya Ria dan anak-anak perempuan lainnya adalah teman Hatra juga. Begitu pun dengan Maul dan anak-anak laki lainnya. Mereka temanku juga. Kami semua kan bertetangga. Hanya beda tongkrongan saja. Tapi sesekali kami juga nongkrong bersama-sama karena terkadang Hatra, Maul dan kawan-kawan lainnya suka ke rumah Ria.



***



     Meski aku dan Hatra tidak melulu ketemu, Hatra selalu saja tau tentang aku. Entahlah, mungkin dapat informasi dari teman-temanku. Didukung dengan usianya yang dua tahun lebih tua, terkadang aku justru merasa lebih seperti adiknya ketimbang pacarnya. Tapi aku suka. Usahanya untuk selalu menjagaku sangat luar biasa.


     Pernah suatu hari, ketika aku sedang berkumpul di rumah Ria, aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Riko, salah satu remaja sepantaranku yang tinggal di dekat rumah Ria, lewat dan secara sengaja menyenggol bagian bokongku dengan tangannya. Aku kaget! Tentu saja aku tidak terima!


"Heh! Kurang ajar!" teriakku ke arah Riko. Tapi Riko sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Dia justru menoleh ke arahku dan melemparkan senyum kepuasan. Sakit! Ingin rasanya aku menyumpah serapah, tapi aku teringat bahwa Riko adalah seorang anak tanpa Ayah. 'Ah, apa untungnya aku membalas dengan kata? Ditujukkan kepada anak yatim pula!' Kemudian yang terjadi, aku hanya bisa menangis. Menangisi diri sendiri. Menangisi bentuk pelecehan yang baru saja aku alami. Teman-temanku, termasuk Ria, sibuk menenangkanku setelahnya. Tanpa Hatra.




***


"Kamu lagi dimana? Aku di rumah Ria. Mau ke sini nggak?"

sebuah pesan singkat masuk dari Hatra. Kabar itu sudah sampai ke telinga dia rupanya.


     Tanpa membalas pesannya, aku bersiap-siap keluar rumah. Aku bilang pada Mama kalau aku ingin ke rumah Ria. Tentu saja aku tidak bilang akan menemui Hatra. Orang tuaku bisa murka! Tidak ada pacar-pacaran dalam kamus mereka. Itu sebabnya aku tidak pernah bercerita tentang Hatra.


     Sesampainya di rumah Ria, Hatra menyambutku dengan senyumnya. Dia mencubit pipi tembamku dan berkata, "Mata sembabnya udah mau ngalahin pipi tuh!" Aku pun refleks tersenyum.


     Setelah itu dia mengajakku untuk duduk di depan rumah Ria. Bertiga dengan Ria juga. Kami membicarakan tentang banyak hal dan banyak tertawa. Termasuk membicarakan tentang rencana pendidikanku selanjutnya. Memilih antara seragam putih-abu seperti kakakku, atau seragam putih-hitam seperti Hatra dan Ria. Ah, tentang kekurangajaran Riko pun aku sampai lupa dibuatnya!


     Begitulah, Hatra. Jangan harapkan dia akan datangi Riko kemudian melakukan adu jotos di luar sana. Hatra akan lebih memilih untuk bertemu denganku dan membuatku lupa tentang luka itu. Begitulah cara Hatra menjagaku. Walaupun aku tau, setelah itu hubungan Riko dan Hatra menjadi tidak sebaik sebelumnya. Ada jarak diantara mereka.



***


     Hatra itu manis. Belakangan aku tau bahwa dia seringkali menanyakan pada Ria tentang aku. Bahkan untuk sekedar memastikan aku sudah pulang dari rumah Ria sebelum jam 09.00 malam. Hatra juga pernah datang ke sekolahku di jam pulang sekolah hanya untuk menyapa dan menyampaikan agar aku hati-hati di jalan. Ya, hanya untuk itu! Tentu saja karena Hatra sudah tau kalau aku tidak akan bisa pulang bersamanya. Hatra tau aku harus ikut mobil-antar-jemput-sekolah, yang memang sudah sejak aku SD seperti itulah peraturannya. Lagi dan lagi, cara Hatra melindungiku begitu manis.




***


    Menjelang dua tahun usia hubungan kami, Hatra menyampaikan bahwa dia dan keluarganya harus pindah ke Magelang. Dia harus meninggalkan Jakarta. Itu artinya aku dan Hatra tidak lagi bertetangga. Tentu saja aku tidak bisa melarang. Sedih memang karena akhirnya kami harus LDR-an. 


     Beberapa hari sebelum Hatra berangkat ke Magelang, aku berpapasan dengan Maminya Hatra di depan rumah. Setelah saling berbalas senyum, Maminya Hatra merangkulku dan berkata, "Maaf ya Deya, kami harus pindah dari Jakarta. Kamu sama Hatra akan baik-baik aja kan?"

"Mudah-mudahan, Mi." jawabku meyakinkan. Ya, aku memang sudah terbiasa memanggil Maminya Hatra dengan sebutan Mami juga, sama seperti Hatra.

"Mampir ke rumah, yuk! Ada Hatra tuh di dalam." ajak Mami.

"Iya, Mi. Aku lagi mau ke rumah Ria. Nanti main deh ke rumah Mami. Aku ajak Ria juga boleh kan, Mi?" tanyaku.

"Boleh, dong! Ditunggu, ya!" jawab Mami. Kemudian aku pamit dan bergegas ke rumah Ria.


     Begitulah Mami. Beliau selalu terbuka dan menerimaku dengan sangat ramah. Mami sudah tau dari dulu tentang hubunganku dengan Hatra. Beliau seperti memaklumi dunia anak remaja. Gaul sekali! Berbeda dengan orang tuaku yang tidak menoleransi soal itu.

     Meski Mami selalu terbuka dan membebaskanku untuk bermain di rumahnya, tapi aku selalu saja mengajak komplotan kalau mau datang ke sana. Aku tidak pernah mau datang sendirian ke rumah Hatra. Entahlah, seperti akan canggung saja rasanya. Jadi aku selalu mengajak Ria, Maul dan beberapa teman lainnya ketika bermain ke sana.



***



     Hubungan jarak jauh Jakarta-Magelang antara aku dan Hatra ternyata tidak berumur panjang. Bukan, bukan karena Hatra melakukan hal yang macam-macam di sana. Tapi karena aku yang memang tidak bisa. Rasanya aneh jauh dari Hatra.


     Setelah kepindahannya, selama apa pun aku berdiri di balik jendela, aku tidak lagi bisa melihat sosok Hatra. Meski Hatra tetap menjaga dan memantauku melalui Maul dan Ria, tapi tetap saja rasanya berbeda. Aku kehilangan.


     Hingga di satu hari, aku menyampaikan kepada Hatra melalui pesan singkat bahwa aku ingin kami berteman saja. Aku ungkapkan semua hal yang aku rasa berbeda sejak kepindahannya. Kemudian Hatra mencoba meyakinkanku untuk memikirkan lagi keputusan itu. Tapi aku tetap bersikeras dengan egoku.


     Esok harinya, Ria datang ke rumahku dan mengajakku ke luar rumah. Aku menurut saja tanpa ada firasat apa-apa. Dari kejauhan, aku melihat Maul dan beberapa teman lainnya sedang berkumpul. Aku pikir Ria hanya ingin mengajakku berkumpul bersama yang lainnya seperti biasa. Hingga kemudian aku menyadari bahwa ada Hatra di tengah-tengah mereka. Ya, ternyata Hatra ada di Jakarta.


     Aku, Ria, Maul, Hatra dan beberapa teman lainnya berkumpul bersama. Kami bercanda dan tertawa. Semua terlihat baik-baik saja. Aku rasa tidak ada teman-teman yang menyadari bahwa sebenarnya aku dan Hatra sudah tidak lagi bersama. Mungkin Hatra memang belum cerita.


     Euforia kedatangan Hatra jelas sekali terasa. Aku pun menyadari bahwa ternyata bukan cuma aku yang merindukan Hatra, tapi teman-teman yang lain pun juga.


"Eh, gue ijin bentar ya, mau ngomong berdua sama Deya!" kata Hatra tiba-tiba seraya pamit ke teman-teman yang lainnya. Aku tidak menyangka, tapi mencoba untuk merespon sewajarnya. Teman-teman yang lain mengerti dan memberikan waktu untuk kami berdua.


     Aku dan Hatra menjauh dari kerumunan itu beberapa langkah. Dan untuk beberapa saat kami cuma saling diam dan beradu tatap sebelum akhirnya Hatra membuka kalimat,
"Dey, aku salah apa?" tanya Hatra.

"Nggak. Kamu nggak salah apa-apa. Aku cuma nggak bisa aja." kataku. Ah, berat sekali rasanya melihat ekspresi Hatra kala itu.

"Tapi aku yang nggak bisa kalau harus kayak gini." ucap Hatra mencoba membujuk. Sayangnya percakapan di antara kami tidak menunjukkan tanda-tanda akan rujuk. Kusut.


     Jangan salahkan Hatra. Dia sama sekali tidak bersalah. Bahkan selama aku menjalani hubungan dengannya, mengecewakan aku pun dia tidak pernah. Apalagi masalah orang ketiga. Tidak! Tidak ada yang perlu diragukan dari kesetiaan seorang Hatra. Dia baik. Bahkan mungkin terlalu baik! Hanya saja aku tetap bersikeras dengan egoku. Aku tidak bisa tanpa sosoknya di dekatku.


     Aku pamit pada Hatra dan bergegas pulang ke rumah. Aku tidak kembali berkumpul dengan teman-teman yang lainnya karena mood-ku sedang kurang bagus rasanya. Beberapa saat kemudian, Maul dan Ria datang dan mengajakku mengobrol di teras rumah. Sepertinya Hatra sudah cerita tentang keadaan hubungan kami yang sebenarnya.


"Dey, lo serius?" tembak Ria dengan pertanyaannya. Aku hanya diam.

"Nggak mau coba dipikirin lagi, Dey? Itu Hatra sampe bela-belain ke Jakarta lho!" kata Maul mengompori.

"Iya ih, kurang sayang apa lagi coba dia! Masih kurang bukti?" kata Ria terlihat mulai emosi. Tapi aku tetap memeluk egoku. Angkuh.




***


     Empat tahun berlalu sejak hubunganku dan Hatra kandas karena egoku. Aku sedang sibuk dengan dunia mahasiswa, sedangkan Hatra sibuk bekerja di salah satu hotel di Jakarta. Ya, Hatra bekerja di Jakarta. Rupanya sudah satu tahun belakangan, dia dan keluarganya tidak lagi di Magelang. Mereka tinggal di Bekasi. Jadi, Hatra pulang pergi Jakarta-Bekasi setiap hari.


     Komunikasiku dengan Hatra kembali membaik. Begitu pula komunikasiku dengan Maminya. Hatra beberapa kali mampir ke lingkungan tempat tinggalku, untuk sekedar menjalin silaturahmi dengan teman-teman nongkrongnya dulu. Bahkan, Hatra pernah juga bertamu ke rumahku. Ya, aku sudah mulai berani terbuka pada orang tuaku. Toh, aku dan Hatra tidak berpacaran. Orang tuaku pun menganggap Hatra hanya seorang tetangga lama yang sekedar ingin berkunjung ke rumah.


     Hatra tidak berubah. Meski aku bukan lagi pacarnya, tapi Hatra tetap saja peduli dan melindungiku dengan caranya. Hatra selalu cerewet menasehatiku tentang bahaya pergaulan di Jakarta. Sampai kenyang aku dibuatnya karena dijejali dengan kata-kata, "Dey, kamu kalau bergaul jangan aneh-aneh! Pilih temen yang bener ya! Apalagi dunia mahasiswa," dan bla bla bla. Rasanya sudah berulang kali dia mengucapkannya. Tapi aku suka. Aku suka karena masih dipedulikan oleh Hatra.


     Hatra juga tidak bosan-bosan menanyakan padaku tentang siapa lelaki yang menjadi pacarku. Hatra selalu ingin tau lelaki itu serius menyayangi dan bisa melindungi aku atau tidak. Jangan bayangkan Hatra seperti lelaki over-protective yang mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Karena sama sekali tidak seperti itu! Hatra menanyakan dengan sangat lembut. Terasa sekali dia hanya ingin memastikan bahwa aku tidak akan dikecewakan atau disia-siakan. Ah, Hatra. Dia tetap saja terlalu baik.



"Mami nyuruh kamu main ke rumah di Bekasi." kata Hatra di satu kesempatan.

"Oh. Iya, nanti aku coba atur waktunya." jawabku menimpali.

"Kalau emang kamu mau main ke sana, bilang aja. Nanti aku jemput."

"Oke." jawabku sekedarnya. Padahal sebenarnya aku antusias sekali ingin main ke sana. Aku rindu sama Maminya Hatra. Diam-diam aku pun menyusun rencana untuk mengajak Ria.



***


     Hingga di satu hari, aku, Ria dan beberapa teman lain sepakat untuk berkunjung ke rumah Hatra di Bekasi. Kami juga mengajak Tante Nana, sahabat Mami waktu masih tinggal di dekat rumahku dulu. Kami berangkat naik kereta menuju Stasiun Bekasi. Kemudian kami menyambung dengan angkot berwarna merah menuju Babelan. Sesampainya di titik lokasi yang sesuai dengan arahan, kami turun dari angkot dan berjalan kaki menuju sebuah perumahan. Di depan perumahan itulah kami dijemput oleh Hatra dan Maminya. Kemudian kami berjalan kaki bersama-sama menuju rumah Hatra.


     Di pertengahan jalan, ada yang menghampiri kami dengan mengendarai motor Honda CBR 150R berwarna merah. Ternyata itu kak Denis, kakaknya Hatra. Kemudian kak Denis turun dan gantian Hatra yang siap mengendarai motornya.


"Yuk, Dey!" ajak Hatra. Aku kaget dan bingung. Merasa tidak enak kalau aku harus naik motor dengan Hatra, sedangkan yang lainnya berjalan kaki.

"Mikirin apa, Dey? Sama Hatra gih, biar bisa nyampe duluan. Ada Papi kok di rumah." kata Mami seolah bisa membaca pikiranku. Mami pun seperti paham kalau aku tidak akan mau di rumah berduaan saja dengan Hatra.

"Aku nggak enak, Mi. Masa' aku naik motor, sedangkan Mami jalan kaki." jawabku agak kikuk.

"Nggak apa-apa, sayang. Mami sekalian mau ngobrol nih sama Tante Nana. Kan udah lama nggak ketemu" kata Mami menimpali.

"Udah Dey, nggak apa-apa. Lo sama Hatra aja, gih!" Ria pun tidak mau kalah mengompori. Akhirnya aku pun menurut.


     Setelah semua rombongan tiba di rumah Hatra, kami mengobrol dan makan bersama. Kami bercanda, tertawa, juga nostalgia. Seru sekali! Ba'da ashar kami pun pamit pulang ke Jakarta. Sebelum berangkat, Mami memelukku erat sekali. Hangat. Ah, ternyata tidak cuma Hatra yang tidak berubah, tapi seluruh keluarganya juga. Mereka tetap hangat, ramah dan terbuka.




***


     Itu mungkin adalah pengalaman pertamaku bertemu lagi dengan keluarga Hatra setelah sekian tahun tidak bertatap muka. Lebih tepatnya, setelah hubunganku dan Hatra berakhir. Tapi itu bukanlah pengalaman terakhir. Aku pernah berkunjung lagi ke rumah Hatra setelahnya. Tapi tidak dengan Ria ataupun Tante Nana.


     Saat itu aku sedang bermain di rumah Tia, teman kuliahku. Kebetulan rumahnya di Bekasi juga, tepatnya di Perumnas III. Aku bermain di rumah Tia bersama dua orang teman kuliahku yang lain, namanya Chacha dan Ana.


     Ketika aku menceritakan tentang Hatra, Chacha pun jahil menantangku untuk datang ke sana karena ternyata jarak rumah Tia cukup dekat dengan rumah Hatra di Karang Satria. Aku pun menyanggupi dengan catatan mereka mau ikut pergi bersamaku. Lagipula saat itu sedang jam kerjanya Hatra. Jadi, kupikir kami hanya akan bertemu dengan Maminya saja.


     Akhirnya aku, Chacha, Ana dan Tia main ke rumah Hatra. Di sana kami mendapat sambutan hangat dari Maminya Hatra seperti biasa. Kami mengobrol di ruang tamu sambil kuperkenalkan teman-temanku satu per satu. Chacha yang paling klop mengobrol dengan Mami. Mereka berdua heboh sekali! Tidak heran sih, karena Chacha memang yang paling supel diantara kami.


"Kamu main ke sini kok kayak orang tau, Dey. Feeling ya?" tanya Mami padaku disela-sela obrolan.

"Maksud Mami?" aku justru balik bertanya.

"Hatra ada di kamar tuh!" jelas Mami.

"Loh, dia nggak kerja, Mi?" tanyaku. Kaget karena ternyata aku salah prediksi.

"Dia baru keluar dari Rumah Sakit kemarin. Jadi hari ini masih perlu istirahat." jawaban Mami membuatku jauh lebih kaget.

"Hatra sakit? Sakit apa, Mi?" tanyaku agak memburu. Aku sama sekali tidak tau kabar itu.

"Sakit Typus. Dia ngelarang Mami kasih tau ke kamu. Masuk aja ke kamarnya kalau kamu mau ketemu. Kamarnya ada di sebelah kiri ruang makan." kata Mami. Begitulah, Mami tidak berubah. Selalu saja percaya pada anak remajanya. Membiarkan aku masuk ke kamar Hatra seolah bukanlah sesuatu hal yang salah. Padahal itu adalah hal yang tabu bagiku dan keluargaku.


     Meski sempat ragu, tapi akhirnya aku pun menuju ke kamar Hatra. Aku membuka pintu kamarnya dan mendapati Hatra sedang berbaring lemah sambil mencoba tersenyum ke arahku. Seolah dia memang sudah menungguku untuk masuk ke kamar itu. Mungkin dia sudah mendengar suaraku yang ber-haha-hihi di luar sana sedari tadi. Ah, sedih sekali melihat Hatra yang pucat di atas tempat tidurnya. Hatra yang berbeda dari biasanya.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Hatra mendahului aku yang khawatir tentang keadaannya.

"Sama temen-temen kuliahku. Kebetulan rumah temenku di Perumnas III, jadi sekalian main ke sini."

"Oh. Kamu naik apa?" tanya Hatra lagi. Sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menanyakan tentang dirinya sendiri.

"Aku naik motor tadi konvoi dari kampus. Tiga orang temenku ini semuanya orang Bekasi yang kuliah di Jakarta. Masa' mereka terus sih yang main di Jakarta. Aku juga kan mau sekali-kali main ke Bekasi." jelasku.

"Kamu bawa motor sendiri ke sini?!" tanya Hatra dengan nada yang agak meninggi. Aku pun mengangguk. "Dey, ini jauh lho!" lanjutnya dengan nada yang tidak kalah tinggi.

"Iya. Sekali-kali. Biar punya pengalaman." jawabku sambil cengengesan.

"Tadi lewatnya mana? Pulangnya jangan lewat Pulo Gadung, ya! Mobilnya besar-besar yang lalu lalang di sana. Ngeri!" pesan Hatra. Jelas sekali ekspresi khawatir di wajahnya.

"Iya." jawabku singkat. Kemudian kami saling terdiam. Aku pun mulai salah tingkah.

"Ngobrol di luar, yuk! Aku tau kamu nggak nyaman berduaan di kamar." ajak Hatra. Ah, dia selalu tau bagaimana aku. Aku pun menurut. Kami menuju ruang makan, kemudian mengobrol berdua di sana. Memang tetap berdua sih, tapi Mami, Chacha, dan yang lainnya bisa melihat kami dari ruang tamu. Tidak seperti di dalam kamar.


     Ketika waktu sore tiba, aku dan teman-temanku pun pamit pulang. Aku mengenalkan teman-temanku kepada Hatra seraya pamitan. Kemudian Mami dan Hatra mengantar kami sampai pintu gerbang. Saat aku bersiap menyalakan mesin motorku, Hatra menarik tanganku dan bilang, "Kamu pulangnya aku anter aja, ya!"

"Jangan! Kamu kan masih sakit." jawabku menolak. Mana tega aku membiarkan Hatra mengantarku sampai Jakarta.

"Nggak apa-apa. Aku khawatir kamu pulang sendirian." kata Hatra.

"Tenang aja, aku bisa kok!" aku mencoba meyakinkan Hatra. Dia pun pasrah dan mencoba percaya.

"Kamu hati-hati, ya! Maaf aku nggak nganter kamu. Kabarin kalau udah di rumah." pesan Hatra.

"Iya. Kamu cepet sembuh ya!" timpalku sambil mengacak-acak rambutnya. Hatra pun mencoba menyunggingkan senyum di wajah pucatnya.

"Tenang aja, Tra! Gue anterin Deya kok sampe arah Mall Metropolitan. Nanti dari situ dia udah gampang." kata Icha mencoba ikut meyakinkan Hatra.

"Oke. Thanks ya, Cha!" jawab Hatra.




***





     Setelah itu, aku tidak pernah lagi melihat Hatra. Kami memang masih berkomunikasi melalui pesan singkat untuk beberapa waktu setelahnya. Tapi tidak lagi intens seperti sebelumnya.

     Hatra pernah menghubungiku dan mengharapkan bantuanku. Dia akan menikah dengan seorang wanita pilihannya. Tapi sayangnya, Mami tidak menyetujui keputusannya. Bahkan kabarnya, Mami sampai mengurung dirinya di kamar dan tidak mau keluar. Mami tidak mau makan. Hatra meminta tolong padaku untuk datang ke rumahnya dan membujuk Mami. Menurut Hatra, hanya aku yang bisa melakukan ini. Tapi aku tidak menyanggupi. Aku tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam urusan keluarganya. Tidak sampai hati rasanya.

     
     Hingga kemudian aku dan Hatra tidak pernah lagi bicara, apalagi bertatap muka. Terakhir yang kuingat, Hatra mendoakan kelak aku akan mendapatkan lelaki yang baik, yang bisa menyayangi dan menjagaku melebihi dirinya, yang tidak hanya peduli padaku tapi juga kepada keluargaku. Aku pun meng-aamiin-kannya.



***


"Deya, ya? Masih inget gue?"

sebuah pesan masuk di media sosial Facebook. Dari Nino, sepupunya Hatra yang dulu menemani Hatra saat meluncur dari Magelang ke Jakarta.

"Iya, masih." jawabku.

"Gimana kabar?" tanya Nino.

"Baik. Lo gimana?" kataku, balik bertanya.

"Baik juga."


* Deya is typing... *

saat itu, aku mengetik satu kalimat tanya. Tapi rasanya harus berpikir berulang-kali untuk mengklik tombol kirimnya. Hingga akhirnya aku pun mantap mengirimkannya kepada Nino.

"Hatra apa kabar, No?" tanyaku. Satu kalimat tanya yang singkat, namun terasa mencekat.

* Nino is typing... *

Deg deg deg! Entah bagaimana rasanya saat itu. Antara takut dan penasaran bercampur aduk.

"Baik. Bulan kemarin baru banget nikah. Emang lo nggak diundang?" jelas Nino.

"Oh. Enggak, No. Hatra nggak bilang. :)" balasku. Lega. Setidaknya aku tidak lagi bertanya-tanya.



***


Hai, Hatra!
Kalau kamu baca ini, aku cuma mau bilang,
Aku (juga) udah nikah sekarang.
Tenang aja, aku nikah sama pria yang baik, insya Allah. Mungkin doa kamu yang waktu itu diijabah sama Allah.
Makasih ya udah nunjukkin ke aku bahwa disayangi sepenuh hati ternyata seindah itu. Dan lewat kamu, aku jadi tau kalau ternyata tulus itu nggak cuma gombalan semu.

Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu.




-Deya-


Jumat, 03 Maret 2017

Karena Seekor Laba-laba, Rejeki Berpindah Tangan Sekejap Saja

           Jujur gue nggak suka banget sama laba-laba. Nggak tau kenapa. Geli aja gitu bawaannya. Kalo udah sekali aja ngeliat laba-laba, bisa langsung kebayang-bayang terus udah kayak digentayangin setan. Merinding nggak kelar-kelar!

Siang tadi, sekitar jam 13.20 WIB gue keluar dari lingkungan sekolah. Rencananya sih mau pulang ke rumah. Kayak biasanya, gue ngendarain motor Honda Beat biru yang udah nemenin gue dari jaman masih jadi maba.

Sekitar beberapa meter dari gerbang sekolah, gue ngeliat ada laba-laba bertengger di kaca spion motor gue sebelah kanan. Oemjih! Sempet panik sih beberapa detik, tapi gue langsung nyoba tenang. Mikirin gimana caranya gue nyingkirin itu laba-laba biar jauh-jauh dari motor gue.

Hellooo, masalahnya kan doi punya jaring! Nah, kalo pun gue tepis pake tangan kiri gue, bisa aja dia ngeluarin jaringnya buat balik lagi nyangkut ke bagian-motor-gue-yang-entah-sebelah-mana.

"Ah, bodo amat deh, yang penting gue coba tepis dulu. Kalo gue diemin, bisa-bisa doi malah loncat ke tangan gue." Euwh! Ogah!

Gue ambil ancang-ancang. 1, 2, 3… Plak! Jadilah gue tepis doi pake tangan kiri gue, selagi tangan kanan gue tetep nge-gas (re: kondisi motor tetep sambil jalan). Lenyaplah sudah itu laba-laba. Nggak ada lagi di kaca spion gue. Tapi gue masih mikirin kemungkinan-kemungkinan si laba-laba itu nemplok entah di sebelah mana. Sambil ngendarain motor, gue curi-curi pandang ke jaket, rok, ataupun bagian-bagian motor yang masih bisa kejangkau sama mata gue. Ngendarain motor pun jadi nggak konsen dan nggak fokus.

“Wah, bisa bahaya nih kalo bawa motornya kayak gini!” batin gue.

Setelah lumayan jauh dari lingkungan sekolah, tiba-tiba gue ngeliat doi lagi! Iya, doi. Laba-laba yang tadi. Jalan-jalan di jaket gue. Oemjih! Panik tingkat kabupaten, coy! Langsung gue ngeluarin jurus andalan, menepis secepat kilat sekuat baja. *Halah!

Tiba-tiba… BRUK! Gue nabrak mobil di depan gue. Mobil Suzuki Ertiga warna putih. Si pengemudi mobil pun keluar dari mobilnya dan ngecek bagian belakang mobil dia. Bemper belakangnya penyok.

“Duh, mampus gue!”

Kejadian selanjutnya sama kayak yang pernah gue liat di film-film. Si pengemudi mobil sok-sok bingung, “Yah gimana nih, mbak? Mobil setoran pula. Bla bla bla…”

Hemm... Baiklah. Karena gue males bertele-tele, ya gue bilang kalo gue bakal tanggungjawab dan gue tanya berapa ganti ruginya. Si pengemudi ini masih pasang tampang bingung. Entah bingung beneran atau cuma sok bingung. Dia, yang ternyata seorang supir, nggak tau biaya benerinnya berapa. Gue pun nyuruh dia buat nanya ke majikannya. Dia ngelongok ke dalem mobil dan ngobrol sama seseorang. Ternyata itu anak majikannya.

Setelah ngomong sana-sini, akhirnya si anak majikan itu nyebut nominal 450.000 rupiah. Gue keluarin 450.000 dari dompet gue. Gue serahin di depan anak majikan itu dan supirnya. Gue minta maaf. Terus mereka masuk lagi ke mobil mereka dan pergi.

Setelah mobil itu pergi, dua orang (yang kayaknya sih) tukang ojek bilang, “Kenapa dibayar mbak? Nggak parah-parah banget kok itu rusaknya.”

Tadinya gue mau nimpalin, “Kenapa lo nggak (bantu) ngomong daritadi? Kenapa lo baru komentar sekarang?” tapi gue urung. Gue milih istighfar dan gue lanjutin perjalanan.

Ada juga yang nimpalin, “Iya, kenapa dibayar? Kan dia yang salah.”
Wallahu’alam bish shawab.
Yang gue tau, gue (juga) salah. Gue nggak fokus. Gue meleng.

Nyesek emang, 450.000 melayang. :”)

Sepanjang perjalanan pulang, gue tutup rapet muka gue pake masker. Gue nangis. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muter di kepala gue.
Kenapa sih gue harus meleng?”
“Kenapa gue nggak fokus aja ke depan tadi? Cuekkin aja laba-labanya!”
“Kenapa gue nurut aja ngasih 450.000?”
“Kenapa nggak gue telepon aja tadi majikannya (si orang tua) buat bikin kesepakatan dan minta maaf langsung?”
“Kenapa nggak gue minta buat ke bengkel bareng aja? Biar jelas biayanya.”
Kenapa, kenapa dan kenapa-kenapa lainnya...

Eh tunggu, tunggu! Tapi ini udah jadi bagian dari skenario-Nya kan?

Seketika gue inget sindiran dari salah seorang pria kesayangan pas gue lagi mengeluhkan tentang suatu keadaan.
“Ngakunya sih ‘Pengagum Skenario Kehidupan Buatan-Nya’, masa’ dikasih kondisi kayak begini aja ngeluh?” katanya.

Akhirnya, disela-sela isak tangis dibalik masker tadi, gue tepis semua pertanyaan-pertanyaan “kenapa” itu. Gue ganti dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Gue mohon ampun kalo masih ada rasa nggak ikhlas sekecil apa pun itu di hati gue. Gue mohon ampun karena gue nangis, seolah nggak terima sama apa yang udah nimpa gue barusan. Gue mohon bantuan-Nya buat tanemin ke diri gue kalo ini adalah bagian dari skenario-Nya yang nggak perlu diragukan lagi kesempurnaannya.

Siapa yang sangka, cuma lewat laba-laba, Dia bisa mencabut rejeki yang dimiliki makhluk-Nya sekejap aja.  Cuma dengan mengirimkan laba-laba, yang bahkan gedenya nggak nyampe seukuran jempol orang dewasa. Masyaallah…

Logika kita (manusia) seringkali nggak nyampe buat nelusurin kesempurnaan skenario-Nya. Benang merah-Nya sering banget nggak ketangkep sama logika kita!  Contohnya aja pengalaman yang gue alamin barusan. Dia udah ngatur kapan laba-laba itu bertengger di motor gue, di menit keberapa gue mutusin buat pulang ke rumah, di menit keberapa gue nengok ke spion dan menemukan sosok laba-laba di sana, di menit keberapa gue mulai nggak fokus, di menit keberapa gue ketemu sama mobil Suzuki Ertiga warna putih dan di menit keberapa gue akhirnya nabrak mobil itu. Semuanya udah diatur sama Dia. Semuanya! Diatur dengan sangat sempurna di setiap inchinya. Keren ‘kan? Lantas, punya alasan apa untuk meragukan ketetapan-Nya?

Padahal bisa aja di dalam skenario-Nya laba-laba itu nggak bertengger di kaca spion, tapi di knalpot motor. Jadi gue nggak ngeliat kalo ada laba-laba. Jadi konsentrasi gue nggak bakal keganggu. Jadi gue nggak bakal nabrak mobil orang. Jadi duit 450.000 gue nggak bakal melayang.

Tapi enggak. Enggak kayak gitu kenyataannya.

Mungkin bisa aja gue marah. Gue mengumpat. Gue bilang kalo Dia jahat karena udah bikin skenario yang merugikan buat gue. Bisa aja gue nggak terima karena Dia udah mendzolimi gue.

Tapi enggak. (emang) Nggak boleh gitu seharusnya.

Gue positive thinking aja. Percaya aja kalo ini adalah cara-Nya buat bersihin harta yang gue punya. Karena sejujurnya belakangan ini emang gue cuma fokus buat nabung. Nge-hemat se-hemat-hemat-nya. Gue sampe nggak sadar kalo gue udah lalai dalam sedekah. Gue (pura-pura) lupa kalo gue punya kewajiban buat ngebantu orang lain. Gue lupa beramal. Dan lewat kejadian inilah Dia negur gue. Dia rancang sedemikian rupa, gimana caranya buat nebus kelalaian gue. Dia ngingetin gue kalo di dalem harta gue itu ada hak buat orang lain. Subhanallah… Semoga uang itu bisa bermanfaat buat si empunya mobil dan keluarganya. Aamiin.

Btw, Dia keren kan? Penulis novel best seller mah kalah deh! :p

Itulah kenapa gue kagum banget sama skenario-Nya. Tapi gue nggak mau cuma jadi pengagum rahasia aja. Gue mau berbagi pengalaman-pengalaman yang pernah gue punya.  Biar semakin banyak orang yang ikut mengagumi-Nya juga. Nggak akan nyesel, insyaallah. J

Nici | Jakarta, 03 Maret 2017

17.05 WIB

Selasa, 28 Februari 2017

Friendzone itu...



Friendzone itu...
Ketika kamu dan dia sudah lama bersama
Melakukan banyak hal bersama-sama
Merasa sudah saling terbuka
Tak lagi canggung berbagi cerita
Kecuali, tentang rasa

Friendzone itu...
Ketika antara kamu dan dia seolah tak ada lagi rahasia
Padahal kamu tak benar-benar jujur soal rasa
Karena takut mengubah keadaan, misalnya

Ketika kamu memilih untuk berpura-pura tertawa
Meski perih telinga mendengar dia membanggakan gebetannya

Ketika meskipun ada kesempatan untuk bicara
Kamu tak paham bagaimana harus menjelaskannya

Ketika kamu membiarkan semua berjalan seperti biasa
Meski harus berpura-pura bodoh selamanya
Tertawa bersama luka yang terus menganga


Nici | Jakarta, 28 Februari 2017
#MalamNarasiOWOP

Selasa, 15 November 2016

7 Hal Menguntungkan Jika Kamu dan Pasangan Berprofesi sebagai Guru

Di era modern ini, masih banyak yang mengganggap kalau profesi guru itu kurang keren. Apalagi dibandingkan dengan profesi-profesi berkelas seperti dokter, insinyur, pilot, pengusaha ataupun arsitek.

Padahal profesi guru itu yang paling keren lho! Profesi guru adalah satu profesi yang bisa melahirkan berbagai macam profesi lainnya. Orang-orang sukses yang kamu kenal sekarang, apa pun itu profesinya, pasti dulunya pernah menimba ilmu dari seorang guru kan?

Nah, buat kamu yang berprofesi sebagai guru, berbahagialah! Kamu adalah orang yang dipilih Tuhan untuk mengemban tanggung jawab besar. Keren! Tuhan nggak akan pernah salah pilih kan?

Kalau kamu seorang guru dan memiliki pasangan yang juga berprofesi sebagai guru, berikut adalah 7 (tujuh) hal yang sangat menguntungkan untuk kalian:




1. Kalian bisa berkolaborasi menciptakan pola asuh yang jitu

Background kalian yang dijejeli dengan ilmu kependidikan, tentu menjadi aset berharga untuk bisa menciptakan pola asuh yang nyaris sempurna.Keseharian di sekolah pun membekali kalian dengan hal-hal yang up to date di kalangan pelajar. Kalian jadi bisa meracik resep yang tepat untuk menciptakan pola asuh yang baik tapi tetap kekinian. So, label 'orang tua kolot' dijamin akan jauh dari sosok kalian!




2. Kalian akan punya kesabaran double power

Dalam mengikuti setiap tahap tumbuh kembang anak, pasti diwarnai dengan tingkahnya yang beraneka macam. Dari mulai yang menggemaskan, hingga yang bikin geram. Ini bukan lagi hambatan buat kalian karena keseharian kalian di sekolah sudah menjadi semacam training khusus dalam menangani macam-macam tingkah laku anak. Jadi, kesabaran kalian tidak perlu lagi diragukan!




3. Kalian menjadi orang tua yang sangat menghormati sosok guru

Profesi kalian yang juga sebagai tenaga pendidik tentu membuat kalian paham betul dengan posisi guru-guru pengajar di sekolah anak kalian. Bukan hal yang mudah untuk mengontrol puluhan bahkan ratusan jumlah siswa di sekolah. Oleh karena itu, masing-masing guru selalu punya caranya sendiri untuk membangun kedisiplinan. Kalian sangat mengerti bahwa guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Kalian percaya bahwa setiap guru pasti mau yang terbaik untuk anak-anak didiknya. So, menuntut guru ke jalur hukum hanya karena menegur, menjewer atau pun mencukur rambut anak kalian? Duh, nggak lah ya!




4. Kalian tau bagaimana menciptakan suasana belajar yang seru

Kalian memahami bahwa duduk di dalam kelas untuk belajar selama sekian jam tentu tidak terlalu menyenangkan. Berbekal dengan ilmu tentang kurikulum terbaru, kalian bisa menciptakan suasana belajar di rumah menjadi mengasyikkan dan seru. Tidak melulu harus duduk diam di atas meja belajar karena anak kalian sudah melakukan itu di sekolah selama hampir seharian. Kasihan.




5. Punya segudang bahan obrolan untuk didiskusikan

Berinteraksi dengan para peserta didik di sekolah membuat kalian selalu update tentang hal-hal yang sedang kekinian di kalangan mereka. Dari mulai film, lagu, hingga bahasa gaul yang sering mereka gunakan. Ini bisa menjadi bahan diskusi bersama anak kalian disela-sela pembahasan tentang prestasi. Pahami 'dunia mereka' dan temukan celahnya. Kalian akan menjadi orangtua yang tegas, bijaksana, tapi tetap kekinian. Keren, kan!




6. Kalian punya lebih banyak waktu luang, sehingga bisa ekstra pengawasan

Profesi guru selalu menang dalam hal banyaknya waktu yang dihabiskan bersama anak. Setiap harinya, jam berangkat kerja dan jam pulang kerja kalian nyaris sama dengan anak. Artinya, kalian berangkat ketika anak berangkat dan kalian pulang ketika anak pulang. Tentu berbeda dengan keluhan para orang tua pekerja kantoran yang seringkali harus pulang ke rumah dalam keadaan anak sudah tertidur nyenyak. Kalian bisa lebih jelas memantau apa saja aktivitas anak seharian, sehingga meminimalisir peluang anak akan salah pergaulan.




7. Waktu libur yang panjang dan berbarengan

Nggak cuma dalam keseharian, dalam liburan pun profesi guru sangat menguntungkan. Kalian bisa menikmati masa liburan panjang secara bersamaan. Nggak cuma libur lebaran! Berlibur dengan formasi lengkap antara orang tua dan anak adalah hal yang menakjubkan, bukan? Tinggal pilih aja lokasi-lokasi liburan yang bisa dijangkau. Dalam kota, luar kota, atau luar negeri?

Selasa, 01 November 2016

Kehangatan dalam Kesederhanaan



"Hai, Topi! Bagaimana keadaanmu di atas sana?"

"Ah, kau ini! Masih saja senang menanyakan hal yang sama. Kau kan tau, kita sama-sama tidak punya alasan untuk mengeluh selagi Bapak tetap tersenyum dengan ikhlasnya. Malu!" kata Topi menjawab pertanyaan dari Sendal.

"Iya, kau benar, Top. Lalu, bagaimana dengan kau, Karung? Apa masih sanggup menampung?"

"Halah, tidak perlu ditanya! Beban yang aku tanggung masih belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang harus ditanggung oleh punggung Bapak." kata Karung menanggapi.

*

Betapa bahagianya Topi karena bisa melindungi Sang Bapak dari teriknya matahari. Merasakan setiap titik peluh yang keluar malu-malu. Menikmati setiap kali tubuhnya basah oleh keringat Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.

Betapa bahagianya Sendal karena bisa melindungi Sang Bapak dari tajamnya bebatuan di jalan. Merasakan setiap titik kekuatan telapak kaki yang menjadi tumpuan. Mengiringi perjuangan setiap inchi langkah kaki Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.

Betapa bahagianya Karung karena bisa menyediakan ruang untuk barang-barang yang Bapak temukan sepanjang perjalanan. Merasakan bertambahnya setiap gram berat beban yang harus ditanggung oleh punggung. Meresapi setiap bisikan syukur kepada Ilahi Robbi dari mulut Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.

*

Topi, Sendal dan Karung sudah menjadi teman setia Bapak selama sekian tahun. Mereka paham betul bagaimana rasanya menjadi yang satu-satunya, menjadi benda yang berharga. Dijaga. Jelas beda dengan barang koleksi orang-orang kaya yang lebih sering disimpan di lemari, bahkan mungkin dilupakan ketika dianggap sudah tidak modern lagi.

*

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ibu pun sudah berdiri di tempat biasanya, bersiap menyambut kepulangan Bapak.

Bapak berjalan gagah menghampiri Ibu. Lengkap dengan sunggingan senyum yang paling mahal. Sebuah senyum keikhlasan. Ibu mencium punggung tangan kanan Bapak, disusul dengan Bapak yang mencium kening Ibu.

"Alhamdulillah, semoga besok lebih berkah." ucap Bapak dan Ibu bersamaan.

*

Itulah pemandangan favorit Topi, Karung dan Sendal setiap hari. Potret kehangatan sebuah keluarga dalam kesederhanaan. Dilengkapi sorot matahari petang yang menenangkan.

-Nici-
01/11/2016
#MalamNarasi

Minggu, 30 Oktober 2016

Berdamai dengan Jerawat !

Hayooo, siapa yang nggak kenal sama jerawat? Aku rasa anak SD jaman sekarang juga udah kenal sih. Eh, apa mungkin anak TK pun udah kenal ya? :D
Kalo ngomongin soal jerawat, rasanya kayak ada gemesh-gemeshnya gitu. Bukan manis-manisnya lho, ya! Ya iyalah, gimana nggak gemesh, sosoknya aja imut-imut ngeselin gimana gitu. :P



Buat kamu-kamu-kamu yang sampe sekarang masih musuhan sama jerawat, luangin waktu buat baca postingan ini sampe kelar, yuk!

Jerawat atau acne vulgaris dalam istilah medis, pada dasarnya adalah benjolan yang timbul akibat penyumbatan pori atau peradangan pada kulit yang disertai dengan nanah atau darah.

Nah, ada beberapa faktor nih yang bisa memicu timbulnya jerawat, diantaranya infeksi akibat bakteri, kulit berminyak, ketidakseimbangan hormon, pola makan yang nggak sehat dan lain sebagainya.

Kalo dipikir-pikir nih ya, kulitku tuh berminyak, terus dari dulu pola makan aku kacau, plus nggak telaten ngerawat kulit. Duh, ya jelas dong kalo jerawat betah banget berleha-leha di muka aku. Eh, tapi itu dulu lho! Sekarang alhamdulillah udah enggak lagi, eh, udah mendingan. Ciyeee~

Dulu aku juga sempet dibikin frutrasi sama jerawat. Aku pernah gonta-ganti skincare yang dijual di pasaran. Pas SMP sih aku setia banget sama salah satu varian dari Pond's, tapi pas SMA dan pas jadi mahasiswa, aku mulai berpaling ke yang lain. Dari mulai berbagai varian Pond's, berbagai varian Garnier, Sari Ayu, Fair 'n Lovely, Wardah, Body Shop, Face Shop sampe produk herbal, pernah mampir ke kulit mukaku. Ugh!

Ngeliat temen bening dikit, langsung kepo nanya, "Eh, perawatan muka lo pake apaan?" Pas denger jawabannya, aku langsung antusias pengen nyoba juga. Ya gitu deh yang bikin aku coba-coba produk ini-itu.

Aku juga pernah sok-sokan ikut perawatan di dokter kecantikan. Kenapa aku bilang "sok-sokan"? Karena aku itu udah kayak cewek jadi-jadian. Aseli! Boro-boro ke dokter kecantikan buat konsul, perawatan, facial, peeling dan lain-lain. Wong ke salon aja cuma kalo mau potong rambut doang! Buat creambath, hair mask, lulur, spa atau apalah itu macam-macamnya, duh, mana pernah!

Pertama kali ikut daftar di dokter kecantikan itu (lagi-lagi) karena iri liat muka temen yang kinclong. Akhirnya ikutan daftar dan perawatan bareng doi. Selain harus rutin pake sabun cuci muka, toner, plus krim pagi dan malemnya, salah satu agenda rutinnya adalah facial.

Oke, aku pernah satu kali nyobain facial dan sampe detik ini, facial itu adalah yang pertama dan yang terakhir. Sakit! Aseli, aku nggak mau lagi-lagi! Muka dikerok-kerok, dicongkel-congkel, duh, diapainlah itu namanya. Sungguh tidak berkeperimukaan. Lah!

Pas nanya sama temen, katanya, "Emang begitu rasanya. Come on, beauty is pain!"

Oemjih!
Harus banget menderita ya buat cantik? :")

Selama sekian minggu aku ikutin jadwal perawatan di dokter itu, KECUALI FACIAL! Tapi aku tetep optimis bakal punya kulit kinclong kayak temen aku. Sampe pada akhirnya ada salah satu temen yang komen pas aku pasang foto profil lagi bareng sama temen-temen aku.

"Ni, kok muka lo merah banget?"

JENG! JENG!
Dari situ aku baru merhatiin muka aku sendiri. Aku bandingin sama muka temen-temenku di foto itu. Ternyata bener, muka aku merah kayak kepiting rebus. Nggak wajar. Nggak kayak temen-temenku yang lain. Emang dasar bukan cewek! Cuek banget sampe aku nggak sadar kalo temen aku nggak bilang. Duh, maklum ya, masih amatiran ikut-ikut perawatan. :P

Sejak itu aku stop ikut perawatan di dokter itu. Temen-temenku bilang mungkin aku nggak cocok. Akhirnya aku balik lagi bergelut dengan berbagai macam produk yang beredar di pasaran. Nyobain yang belom pernah aku cobain. Eh, nggak gitu-gitu banget juga sih!

Terus aku dapet rekomendasi salah satu dokter kecantikan (lagi) dari sepupuku yang nggak sengaja rumpiin jerawat di sebuah pertemuan keluarga. Penting banget kan bahan rumpiannya? :D

Nah, aku ikutan daftar lagi dan akhirnya perawatan bareng sama sepupu aku itu. Sekian bulan aku coba perhatiin perkembangan muka aku. Alhamdulillah nggak ada yang aneh sih. Nggak kayak kepiting rebus.

Tapi ... nggak ada perubahan signifikan juga! Ya gitu-gitu aja. Terus aku kepoin sepupuku yang udah setahun lebih perawatan di sana. Aku pantengin foto-foto dia. Kayaknya emang masih gitu-gitu aja. Ya kayak nggak ada perubahan yang cetar gimana gitu deh.

Akhirnya karena aku ngerasa disitu cuma buang-buang duit, aku milih buat stop. Apa emang akunya aja yang nggak sabar ya? Mbuh! :P

Lagi-lagi aku coba gonta-ganti produk. Bahkan jadi lebih absurd! Aku nyoba-nyoba produk yang dijual online, yang bahkan aku nggak tau itu aman apa nggak. Aku juga pernah nyoba Vitacid yang katanya bisa ampuh babat jerawat. Nyatanya, muka aku malah tambah parah. Jerawat subur-subur udah kayak bayi (super) sehat. Katanya sih masa purging. Tapi, nggak kelar-kelar, men! Jerawat oh jerawat!

Di satu kesempatan, aku ketemuan sama salah satu sahabat aku yang udah lama banget nggak ketemu. Di situ aku terpesona sama mukanya dia. Putih. Bersih. Mulus. Beuh! Sampe pas foto berdua, keliatan banget kontrasnya antara kulit muka dia yang cucok abis sama kulit muka aku yang kucel plus jerawatan. Sadis!

Lagi-lagi aku kepoin produk yang dia pake. Ternyata biasa dijual online. Ya sama aja kayak skincare yang biasanya, terdiri dari sabun muka, toner, krim pagi dan krim malem. Katanya, tantenya dia jual.

Tanpa pikir panjang, langsung aja aku order.

Kalo nggak salah, aku sempet pake skincare itu selama tiga bulan. Waktu itu, belom genap sebulan aja muka aku udah kinclong. Aku berubah jadi cantik. Duileh! Tapi, putihnya putih aneh. Pucat. Nggak wajar. Jerawat nggak nongol satu pun. Ajaib kan? Belakangan aku tau kalo itu adalah ciri-ciri krim yang berbahaya. Wow! Akhirnya aku stop.

Dulu aku pernah mikir "Nggak peduli deh itu skincare aman apa nggak. Yang penting bisa cantik, cucok, kinclong! Jerawat bisa enyah dari muka gue!"

Tapi ternyata aku salah. Jangan asal cantik ya, girls!

Nah, itulah perjalanan panjang yang udah aku jalanin demi ngusir jerawat yang nge-gemesin. Kebayang kan betapa aku udah bersikap nggak berkeprimukaan selama ini? Sekarang aku udah tobat! Aku udah menemukan tambatin hati. Eh salah, tambatan muka. Eh! Ya apalah itu namanya. :D


Mau tau?
Nih ya, aku kenalin satu per satu!


Yang pertama, Ovale Facial Lotion ! Aku pake yang varian Aloe Vera (anti acne) dengan ekstrak jeruk nipis dan tea tree oil. Ini dia penampakannya!


InsyaAllah aman karena udah terdaftar di BPOM. Nomornya NA18151201573. Harganya IDR 23.500 di Indomaret. :D
Aku pake ini tiap sebelum cuci muka. Pengaplikasiannya pake kapas, ya! Biasanya aku pake tiap sebelum mandi pagi dan sebelum tidur. Kalo lagi rajin sih, aku juga pake tiap pulang kerja. Maklum, pengendara motor. Kebayang kan kalo abis ditempa sama polusi Jakarta? Ugh!

Ovale Facial Lotion ini fungsinya untuk membersihkan kotoran dan sisa tata rias. Seenggaknya ini jadi langkah awal pembersihan sebelum menggunakan sabun muka.

Yang kedua, si mungil Amoorea !


Sabun amoorea ini kecil-kecil cabe rawit. Harganya lumayan bisa bikin dompet sesak napas! :D
Untuk satu box (isi dua bar) harganya IDR 400.000. Kalo satu bar, harganya IDR 200.000. Ada juga yang jual eceran dengan harga IDR 100.000 (satu bar dibagi dua). Walaupun nggak banyak, ada juga yang jual eceran dengan harga IDR 50.000 (satu bar dibagi empat). Kebayang nggak kecilnya kayak apa? Coba googling deh! Hati-hati shock ya, girls... :P

Awal aku kenal Amoorea lewat broadcast message BBM dari salah satu akun online shop. Sama kayak sebelumnya, aku sih iseng mau coba-coba aja. Eh ternyata aku jatuh cinta! Ciyeee... Aku ngerasa lebih baik sih setelah pake sabun ini. Jerawat aku nggak brutal lagi. Ya walaupun harganya ... ah, sudahlah!

Amoorea diperkaya oleh kombinasi unik ekstrak Microalgae dengan lumpur Heilmoor, sehingga bersifat menenangkan dan merevitaslisasi kulit sehabis mandi. Aku rasa kandungan lumpur Heilmoornya ini bikin Amoorea jadi sabun yang teksturnya sensitif. Kalo berlama-lama dalam kondisi basah, dia jadi lumer. Bukan sabun padat lagi nanti, jadinya sabun cair. :D

Kalo udah lumer, pemakaian sabun Amoorea jadi lebih boros. Sabunnya jadi lebih gampang abis. Nah, untuk ngatasin hal ini, aku letakkin sabun amoorea di sebuah cup yang bolong-bolong. Ini bisa bantu tirisin air (biar lebih cepet kering) setelah Amoorea dipake. Sabun Amoorea juga bukan sabun yang banyak busanya. Jadi kamu nggak perlu gosok lama-lama biar busanya banyak. Percuma. Yang ada malah boros pemakaian kalo digosok-gosok terus. Sayang tau, mahal! :P 

Oh iya, Amoorea juga insyaAllah aman karena udah terdaftar di BPOM. Nomornya NA32141203338.

Yang ketiga, Elora Beauty Organic !


Toner, krim pagi dan krim malem dari Elora Beauty Organic ini yang juga nemenin keseharian aku. Kecuali sabun mukanya, ya! Aku nggak pake sabun mukanya karena aku kan pake Amoorea. Emang sih setiap aku beli satu paket Elora Beauty Organic ini jadi mubadzir sabun mukanya. Tapi ya mau gimana, aku terlalu cinta sama Amoorea. Duileh! Eh iya lho, seriuuusss... :P

Aku liat penampakan Elora Beauty Organic pertama kali di instagram pas aku masih dalam masa pencarian tambatan muka. Halah! Sama kayak sebelumnya, niat awal sih coba-coba, eh ternyata malah jatuh cinta. :D

Oh iya, Elora ini harganya IDR 200.000 per paket. InsyaAllah aman karena udah terdaftar juga di BPOM. Nomornya:
- Toner NA18161201062
- Facial Wash NA18161201061
- Day Cream NA18160100635
- Night Cream NA18160100634

Awal-awal pemakaian, aku pure cuma pake toner dan krim pagi dari Elora Beauty Organic ini sebelum keluar rumah, tanpa polesan bedak sama sekali! Not bad sih... Cuma ada efek mengkilap gimana gitu di muka. Entah emang karena muka aku yang oily, atau emang krim ini punya efek shiny (?)

Akhirnya, belakangan aku aplikasiin bedak setelah aku pake krim paginya. Aku ngerasa lebih baik setelah pake bedak. Walaupun agak ngeri juga milih produk bedaknya. Takut malah bikin jerawat brutal lagi.

Aku jatuhin pilihan sama bedak Marcks' yang Creme. Iya, bedak Marcks'. Tau kan, bedak yang dari jaman baheula, yang kayaknya sampe setahun pun nggak bakal abis kalo dipake! :D

Iyap, ini penampakannya!


Berhubung packaging bedak Marcks' agak sulit buat dibawa-bawa karena ngeri tumpah di tas, aku baru beralih ke Wardah Everyday Compact Powder nih! Baru banget kemarin beli dan baru sekali pake tadi pagi. Agak kurang suka pas udah diaplikasiin ke muka sih. Kayak dempulan, ups! Ada tebel-tebelnya gimana gitu. Beda sama bedak Marcks' yang terasa halus dan ringan banget di kulit muka.

Eh ya ampun, ini nulis udah panjang banget ya? Maap ya, suka nggak tau diri emang! :D

Yowesh, begitulah pengalaman aku bersama jerawat. Sekarang alhamdulillah aku udah bisa lebih bersahabat dengan jerawat. Kalo kata temen-temenku sih, muka aku udah jauh lebih mendingan dibandingin yang dulu, Duileh! Eh, kalo emang kepo sama perubahannya, langsung stalk aja foto aku yang dulu-dulu sama yang sekarang. :P

Maap ya, nggak nampilin foto Before-After di sini. ^.^

Buat kamu-kamu-kamu yang punya masalah juga sama jerawat, kuncinya sih ya harus segera nyari produk yang jadi tambatan muka kamu. Halah! Jangan cuma ikut-ikut temen (kayak pengalaman aku) karena kecocokan masing-masing kulit itu beda.

Oh iya, saranku sih (lagi-lagi dari pengalaman pribadi), ngga usah pake makeUp tebel-tebel cuma buat nutupin jerawat kamu. Karena itu cuma jadi solusi sementara, tapi nggak bikin jerawat ilang dari muka. Malah bisa jadi lebih parah! Kasian kulit kamu. Menurutku (lagi dan lagi, dari pengalaman pribadi), untuk kulit berminyak (yang udah pasti cenderung berjerawat) yang penting itu telaten ngerawat dan jangan pake produk yang berat-berat.

Kulit yang sehat bukan berarti sama sekali nggak berjerawat lho! Normal-normal aja satu-dua jerawat muncul kalo hormon kamu lagi nggak stabil atau pola makan kamu lagi ancur. :P

Cobalah untuk (lebih) bersahabat dengan jerawat, ya!

GOOD LUCK !

Kamis, 19 Mei 2016

Menu Menyalakan Tanda Bahaya

Hai, salam kenal. Namaku Menu. Aku tahu namaku sudah familiar di telingamu. Tenang saja, kamu bukan orang pertama yang bilang kalau namaku pasaran. Tapi kamu hanya akan menemukanku di sebuah restoran, dengan steak sebagai menu utama yang ditawarkan. Biasanya aku memakai baju berwarna hitam dan kuning yang mendominasi, dengan tulisan “Waroeng Steak and Shake” bertengger di salah satu sisi.

Aktivitasku sehari-hari adalah berpindah dari satu meja ke meja yang lain. Digenggam oleh satu tangan, kemudian berpindah ke genggaman yang lain. Kamu harus tahu bagaimana rasanya dipelototi oleh mata para pengunjung, dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya seru sekali! Kamu akan bisa mengenali wajah-wajah yang sedang kelaparan, kehausan, atau bahkan mengidam. Walaupun tak jarang aku mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan. Aku pernah ditarik-tarik oleh kakak beradik yang berebut ingin memesan makanan. Aku juga pernah dilemparkan begitu saja oleh pasangan yang sedang bertengkar. Dan hal yang paling menyebalkan adalah ketika aku digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri berulang kali oleh pengunjung yang sedang kegerahan. Uh, andai saja dia tahu itu membuatku pusing dan agak mual!

Aku lebih suka rebahan di atas meja daripada harus berdesak-desakan dengan teman-temanku di dalam kotak penyimpanan. Aku senang memperhatikan setiap detail aktivitas yang terjadi di restoran, dari mulai para pelayan yang sibuk berlalu lalang di jam makan siang hingga ekspresi lucu para pengunjung yang kekenyayangan. Aku suka. Setiap meja selalu menawarkan cerita.

Siang hari tadi, ketika restoran baru saja buka, aku diletakkan di salah satu meja yang dikelilingi oleh sebuah keluarga. Ada seorang ibu muda yang menggendong anak balita, serta ada seorang laki-laki paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Laki-laki itu terlihat asyik menikmati sebatang rokok. Asapnya menari-nari di udara, menjelma sebagai pembunuh tanpa suara.

“Uh, aku benci dengan pemandangan ini! Aku benci melihat seorang perokok yang tanpa dosa mengepulkan asapnya di dekat anak balita. Mereka seolah tidak peduli dengan bahaya yang tertulis di setiap bungkus rokoknya. Seharusnya mereka cukup merusak badan mereka sendiri, tidak perlu mengajak anak balita ataupun istri. Tega sekali!” Ucapku emosi.

“Hey, kamu membicarakan aku?” Terdengar suara yang menimpali ucapanku. Ternyata itu berasal dari sebuah bungkus rokok yang tergeletak tak jauh dari tempat pisau dan garpu.

“Oops. Sorry, aku nggak ngeliat kamu tadi.” Kataku.

“Oh, nggak apa-apa. Aku udah biasa kok nggak dianggap ada.” Jawabnya drama.

“Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung, tapi…”

“Iya, tenang aja. Aku nggak tersinggung kok. Aku cuma iri sama kamu. Orang-orang yang memegangmu pasti akan selalu memperhatikan kamu secara detail. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum memesan makanan atau minuman yang mereka cari. Sedangkan aku seringkali hanya dianggap angin lalu. Padahal di bajuku tertulis banyak ilmu tentang bahaya rokok yang dapat membunuh orang itu. Sayangnya aku selalu diabaikan. Bahkan walaupun di bajuku terselip gambar yang menjijikkan!” Suara bungkus rokok terdengar lirih.

“Kalian harus merasakan bagaimana rasanya jadi aku. Masuk ke dalam rongga mulut seorang perokok adalah mimpi buruk! Seperti yang kalian tahu, merokok dapat menghambat aliran darah ke gusi, sehingga membuat gusi kekurangan nutrisi, oksigen dan menjadi rentan untuk terserang infeksi. Merokok juga mengakibatkan bau nafas tidak sedap yang bersifat menetap, meningkatkan penumpukan plak dan karang gigi, menimbulkan peradangan kelenjar ludah dan bercak-bercak putih di dalam mulut yang disebut leukoplakia, serta meningkatkan resiko lubang pada gigi. Menjijikkan bukan?” Kata garpu yang tiba-tiba ikut menyerbu.

Tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Aku, bungkus rokok dan garpu segera mencari asal suara itu. Ternyata itu berasal dari kaos yang dipakai oleh laki-laki paruh baya, penghuni meja kami. “Lantas bagaimana dengan aku? Zat nikotin yang terkandung dalam rokok tidak hanya berpengaruh pada organ dalam perokok. Nikotin juga terserap melalui kulit dan memengaruhi produksi kelenjar keringat, sehingga menyebabkan bau badan yang tidak sedap. Berbeda dengan bahan makanan pada umumnya, bau yang ditinggalkan akibat rokok jauh lebih pekat. Bahkan aku harus terbiasa hidup dengan bau yang menyebalkan itu, selama berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu.” Kaos berseru pelan.

Belum sempat aku menimpali ucapan mereka, aku segera diangkat oleh seorang pelayan dan dipindahkan ke meja lain yang berbeda ruangan. Ruangan ber-AC dan bertuliskan larangan merokok di pintu masuknya. Ruangan ini bagaikan surga. Aku suka. Dan percayalah, bahwa garpu, kaos ataupun benda-benda lainnya juga pasti suka. Seandainya saja aku bisa, aku ingin mereka, para perokok di luar sana, menyadari bahwa merokok itu lebih banyak dampak buruknya daripada manfaatnya. Seandainya saja aku bisa, aku ingin menyuarakan ini pada dunia.

(ditulis dalam rangka Lomba Cerpen Waroeng Steak And Shake, dengan Tema: Bahaya Merokok)