"Ah, bodo amat deh, yang penting gue coba tepis dulu. Kalo gue diemin, bisa-bisa doi malah loncat ke tangan gue." Euwh! Ogah!
Jumat, 03 Maret 2017
Karena Seekor Laba-laba, Rejeki Berpindah Tangan Sekejap Saja
"Ah, bodo amat deh, yang penting gue coba tepis dulu. Kalo gue diemin, bisa-bisa doi malah loncat ke tangan gue." Euwh! Ogah!
Selasa, 28 Februari 2017
Friendzone itu...

Friendzone itu...
Ketika kamu dan dia sudah lama bersama
Melakukan banyak hal bersama-sama
Merasa sudah saling terbuka
Tak lagi canggung berbagi cerita
Kecuali, tentang rasa
Friendzone itu...
Ketika antara kamu dan dia seolah tak ada lagi rahasia
Padahal kamu tak benar-benar jujur soal rasa
Karena takut mengubah keadaan, misalnya
Ketika kamu memilih untuk berpura-pura tertawa
Meski perih telinga mendengar dia membanggakan gebetannya
Ketika meskipun ada kesempatan untuk bicara
Kamu tak paham bagaimana harus menjelaskannya
Ketika kamu membiarkan semua berjalan seperti biasa
Meski harus berpura-pura bodoh selamanya
Tertawa bersama luka yang terus menganga
Nici | Jakarta, 28 Februari 2017
#MalamNarasiOWOP
Selasa, 15 November 2016
7 Hal Menguntungkan Jika Kamu dan Pasangan Berprofesi sebagai Guru
Padahal profesi guru itu yang paling keren lho! Profesi guru adalah satu profesi yang bisa melahirkan berbagai macam profesi lainnya. Orang-orang sukses yang kamu kenal sekarang, apa pun itu profesinya, pasti dulunya pernah menimba ilmu dari seorang guru kan?
Nah, buat kamu yang berprofesi sebagai guru, berbahagialah! Kamu adalah orang yang dipilih Tuhan untuk mengemban tanggung jawab besar. Keren! Tuhan nggak akan pernah salah pilih kan?
Kalau kamu seorang guru dan memiliki pasangan yang juga berprofesi sebagai guru, berikut adalah 7 (tujuh) hal yang sangat menguntungkan untuk kalian:

1. Kalian bisa berkolaborasi menciptakan pola asuh yang jitu
Background kalian yang dijejeli dengan ilmu kependidikan, tentu menjadi aset berharga untuk bisa menciptakan pola asuh yang nyaris sempurna.Keseharian di sekolah pun membekali kalian dengan hal-hal yang up to date di kalangan pelajar. Kalian jadi bisa meracik resep yang tepat untuk menciptakan pola asuh yang baik tapi tetap kekinian. So, label 'orang tua kolot' dijamin akan jauh dari sosok kalian!

2. Kalian akan punya kesabaran double power
Dalam mengikuti setiap tahap tumbuh kembang anak, pasti diwarnai dengan tingkahnya yang beraneka macam. Dari mulai yang menggemaskan, hingga yang bikin geram. Ini bukan lagi hambatan buat kalian karena keseharian kalian di sekolah sudah menjadi semacam training khusus dalam menangani macam-macam tingkah laku anak. Jadi, kesabaran kalian tidak perlu lagi diragukan!

3. Kalian menjadi orang tua yang sangat menghormati sosok guru
Profesi kalian yang juga sebagai tenaga pendidik tentu membuat kalian paham betul dengan posisi guru-guru pengajar di sekolah anak kalian. Bukan hal yang mudah untuk mengontrol puluhan bahkan ratusan jumlah siswa di sekolah. Oleh karena itu, masing-masing guru selalu punya caranya sendiri untuk membangun kedisiplinan. Kalian sangat mengerti bahwa guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Kalian percaya bahwa setiap guru pasti mau yang terbaik untuk anak-anak didiknya. So, menuntut guru ke jalur hukum hanya karena menegur, menjewer atau pun mencukur rambut anak kalian? Duh, nggak lah ya!

4. Kalian tau bagaimana menciptakan suasana belajar yang seru
Kalian memahami bahwa duduk di dalam kelas untuk belajar selama sekian jam tentu tidak terlalu menyenangkan. Berbekal dengan ilmu tentang kurikulum terbaru, kalian bisa menciptakan suasana belajar di rumah menjadi mengasyikkan dan seru. Tidak melulu harus duduk diam di atas meja belajar karena anak kalian sudah melakukan itu di sekolah selama hampir seharian. Kasihan.

5. Punya segudang bahan obrolan untuk didiskusikan
Berinteraksi dengan para peserta didik di sekolah membuat kalian selalu update tentang hal-hal yang sedang kekinian di kalangan mereka. Dari mulai film, lagu, hingga bahasa gaul yang sering mereka gunakan. Ini bisa menjadi bahan diskusi bersama anak kalian disela-sela pembahasan tentang prestasi. Pahami 'dunia mereka' dan temukan celahnya. Kalian akan menjadi orangtua yang tegas, bijaksana, tapi tetap kekinian. Keren, kan!

6. Kalian punya lebih banyak waktu luang, sehingga bisa ekstra pengawasan
Profesi guru selalu menang dalam hal banyaknya waktu yang dihabiskan bersama anak. Setiap harinya, jam berangkat kerja dan jam pulang kerja kalian nyaris sama dengan anak. Artinya, kalian berangkat ketika anak berangkat dan kalian pulang ketika anak pulang. Tentu berbeda dengan keluhan para orang tua pekerja kantoran yang seringkali harus pulang ke rumah dalam keadaan anak sudah tertidur nyenyak. Kalian bisa lebih jelas memantau apa saja aktivitas anak seharian, sehingga meminimalisir peluang anak akan salah pergaulan.

7. Waktu libur yang panjang dan berbarengan
Nggak cuma dalam keseharian, dalam liburan pun profesi guru sangat menguntungkan. Kalian bisa menikmati masa liburan panjang secara bersamaan. Nggak cuma libur lebaran! Berlibur dengan formasi lengkap antara orang tua dan anak adalah hal yang menakjubkan, bukan? Tinggal pilih aja lokasi-lokasi liburan yang bisa dijangkau. Dalam kota, luar kota, atau luar negeri?
Selasa, 01 November 2016
Kehangatan dalam Kesederhanaan

"Hai, Topi! Bagaimana keadaanmu di atas sana?"
"Ah, kau ini! Masih saja senang menanyakan hal yang sama. Kau kan tau, kita sama-sama tidak punya alasan untuk mengeluh selagi Bapak tetap tersenyum dengan ikhlasnya. Malu!" kata Topi menjawab pertanyaan dari Sendal.
"Iya, kau benar, Top. Lalu, bagaimana dengan kau, Karung? Apa masih sanggup menampung?"
"Halah, tidak perlu ditanya! Beban yang aku tanggung masih belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang harus ditanggung oleh punggung Bapak." kata Karung menanggapi.
*
Betapa bahagianya Topi karena bisa melindungi Sang Bapak dari teriknya matahari. Merasakan setiap titik peluh yang keluar malu-malu. Menikmati setiap kali tubuhnya basah oleh keringat Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.
Betapa bahagianya Sendal karena bisa melindungi Sang Bapak dari tajamnya bebatuan di jalan. Merasakan setiap titik kekuatan telapak kaki yang menjadi tumpuan. Mengiringi perjuangan setiap inchi langkah kaki Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.
Betapa bahagianya Karung karena bisa menyediakan ruang untuk barang-barang yang Bapak temukan sepanjang perjalanan. Merasakan bertambahnya setiap gram berat beban yang harus ditanggung oleh punggung. Meresapi setiap bisikan syukur kepada Ilahi Robbi dari mulut Bapak yang menjemput rezeki dengan usaha sendiri.
*
Topi, Sendal dan Karung sudah menjadi teman setia Bapak selama sekian tahun. Mereka paham betul bagaimana rasanya menjadi yang satu-satunya, menjadi benda yang berharga. Dijaga. Jelas beda dengan barang koleksi orang-orang kaya yang lebih sering disimpan di lemari, bahkan mungkin dilupakan ketika dianggap sudah tidak modern lagi.
*
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ibu pun sudah berdiri di tempat biasanya, bersiap menyambut kepulangan Bapak.
Bapak berjalan gagah menghampiri Ibu. Lengkap dengan sunggingan senyum yang paling mahal. Sebuah senyum keikhlasan. Ibu mencium punggung tangan kanan Bapak, disusul dengan Bapak yang mencium kening Ibu.
"Alhamdulillah, semoga besok lebih berkah." ucap Bapak dan Ibu bersamaan.
*
Itulah pemandangan favorit Topi, Karung dan Sendal setiap hari. Potret kehangatan sebuah keluarga dalam kesederhanaan. Dilengkapi sorot matahari petang yang menenangkan.
-Nici-
01/11/2016
#MalamNarasi
Minggu, 30 Oktober 2016
Berdamai dengan Jerawat !
Mau tau?
Nih ya, aku kenalin satu per satu!
GOOD LUCK !
Kamis, 19 Mei 2016
Menu Menyalakan Tanda Bahaya
Hai, salam kenal. Namaku Menu. Aku tahu namaku sudah familiar di telingamu. Tenang saja, kamu bukan orang pertama yang bilang kalau namaku pasaran. Tapi kamu hanya akan menemukanku di sebuah restoran, dengan steak sebagai menu utama yang ditawarkan. Biasanya aku memakai baju berwarna hitam dan kuning yang mendominasi, dengan tulisan “Waroeng Steak and Shake” bertengger di salah satu sisi.
Aktivitasku sehari-hari adalah berpindah dari satu meja ke meja yang lain. Digenggam oleh satu tangan, kemudian berpindah ke genggaman yang lain. Kamu harus tahu bagaimana rasanya dipelototi oleh mata para pengunjung, dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Rasanya seru sekali! Kamu akan bisa mengenali wajah-wajah yang sedang kelaparan, kehausan, atau bahkan mengidam. Walaupun tak jarang aku mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan. Aku pernah ditarik-tarik oleh kakak beradik yang berebut ingin memesan makanan. Aku juga pernah dilemparkan begitu saja oleh pasangan yang sedang bertengkar. Dan hal yang paling menyebalkan adalah ketika aku digerak-gerakkan ke kanan dan ke kiri berulang kali oleh pengunjung yang sedang kegerahan. Uh, andai saja dia tahu itu membuatku pusing dan agak mual!
Aku lebih suka rebahan di atas meja daripada harus berdesak-desakan dengan teman-temanku di dalam kotak penyimpanan. Aku senang memperhatikan setiap detail aktivitas yang terjadi di restoran, dari mulai para pelayan yang sibuk berlalu lalang di jam makan siang hingga ekspresi lucu para pengunjung yang kekenyayangan. Aku suka. Setiap meja selalu menawarkan cerita.
Siang hari tadi, ketika restoran baru saja buka, aku diletakkan di salah satu meja yang dikelilingi oleh sebuah keluarga. Ada seorang ibu muda yang menggendong anak balita, serta ada seorang laki-laki paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Laki-laki itu terlihat asyik menikmati sebatang rokok. Asapnya menari-nari di udara, menjelma sebagai pembunuh tanpa suara.
“Uh, aku benci dengan pemandangan ini! Aku benci melihat seorang perokok yang tanpa dosa mengepulkan asapnya di dekat anak balita. Mereka seolah tidak peduli dengan bahaya yang tertulis di setiap bungkus rokoknya. Seharusnya mereka cukup merusak badan mereka sendiri, tidak perlu mengajak anak balita ataupun istri. Tega sekali!” Ucapku emosi.
“Hey, kamu membicarakan aku?” Terdengar suara yang menimpali ucapanku. Ternyata itu berasal dari sebuah bungkus rokok yang tergeletak tak jauh dari tempat pisau dan garpu.
“Oops. Sorry, aku nggak ngeliat kamu tadi.” Kataku.
“Oh, nggak apa-apa. Aku udah biasa kok nggak dianggap ada.” Jawabnya drama.
“Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung, tapi…”
“Iya, tenang aja. Aku nggak tersinggung kok. Aku cuma iri sama kamu. Orang-orang yang memegangmu pasti akan selalu memperhatikan kamu secara detail. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebelum memesan makanan atau minuman yang mereka cari. Sedangkan aku seringkali hanya dianggap angin lalu. Padahal di bajuku tertulis banyak ilmu tentang bahaya rokok yang dapat membunuh orang itu. Sayangnya aku selalu diabaikan. Bahkan walaupun di bajuku terselip gambar yang menjijikkan!” Suara bungkus rokok terdengar lirih.
“Kalian harus merasakan bagaimana rasanya jadi aku. Masuk ke dalam rongga mulut seorang perokok adalah mimpi buruk! Seperti yang kalian tahu, merokok dapat menghambat aliran darah ke gusi, sehingga membuat gusi kekurangan nutrisi, oksigen dan menjadi rentan untuk terserang infeksi. Merokok juga mengakibatkan bau nafas tidak sedap yang bersifat menetap, meningkatkan penumpukan plak dan karang gigi, menimbulkan peradangan kelenjar ludah dan bercak-bercak putih di dalam mulut yang disebut leukoplakia, serta meningkatkan resiko lubang pada gigi. Menjijikkan bukan?” Kata garpu yang tiba-tiba ikut menyerbu.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Aku, bungkus rokok dan garpu segera mencari asal suara itu. Ternyata itu berasal dari kaos yang dipakai oleh laki-laki paruh baya, penghuni meja kami. “Lantas bagaimana dengan aku? Zat nikotin yang terkandung dalam rokok tidak hanya berpengaruh pada organ dalam perokok. Nikotin juga terserap melalui kulit dan memengaruhi produksi kelenjar keringat, sehingga menyebabkan bau badan yang tidak sedap. Berbeda dengan bahan makanan pada umumnya, bau yang ditinggalkan akibat rokok jauh lebih pekat. Bahkan aku harus terbiasa hidup dengan bau yang menyebalkan itu, selama berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu.” Kaos berseru pelan.
Belum sempat aku menimpali ucapan mereka, aku segera diangkat oleh seorang pelayan dan dipindahkan ke meja lain yang berbeda ruangan. Ruangan ber-AC dan bertuliskan larangan merokok di pintu masuknya. Ruangan ini bagaikan surga. Aku suka. Dan percayalah, bahwa garpu, kaos ataupun benda-benda lainnya juga pasti suka. Seandainya saja aku bisa, aku ingin mereka, para perokok di luar sana, menyadari bahwa merokok itu lebih banyak dampak buruknya daripada manfaatnya. Seandainya saja aku bisa, aku ingin menyuarakan ini pada dunia.
(ditulis dalam rangka Lomba Cerpen Waroeng Steak And Shake, dengan Tema: Bahaya Merokok)
Senin, 04 April 2016
Sajak di Depan Cermin
Kamu ada, meski tak kasatmata
Menjelma, kata demi kata
Ada saatnya kita seirama
Ada saatnya kita beradu asa
Berkawan, melangkah beriringan
Berperang, pecah saling serang
Di satu waktu, kita berdua adalah teman
Di lain waktu, salah satu jadi pecundang
Kita dua, tapi satu
Mereka menyebutnya 'aku'
Hanya aku, tanpa kamu
Hanya aku, satu
Mungkin esok lusa mereka tahu
Ada kamu, di dalam 'aku'
Mungkin esok lusa mereka tahu
Tentangmu, musuh terbesarku
-Nici-
Jakarta, 04 April 2016
#sajakdidepancermin
-------------------------
"Barangsiapa yang memerangi hawa nafsu karena Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan yang diridhoi-Nya, yang akan menghantarkannya kepada surga. Dan barangsiapa tidak memeranginya, maka ia akan ditelan hawa nafsunya." (Ibnul Qayyim)




