Kamis, 04 Juni 2015

Kamu, HTC ONE MINIku



Hey, kamu!
Iya, kamu...
Kamu yang udah nemenin aku sejak 21 April 2014 lalu.

Aku masih ingat betapa seriusnya usahaku untuk bisa dapetin kamu. Ya, untuk bisa memilikimu aku membutuhkan uang sebesar Rp 5.550.000,- kala itu. Dari segi "nama" memang belum terlalu banyak yang mengenalmu.

Aku pernah mendengar tentangmu dari seorang kawanku, jauh sebelum aku mengetahui rupamu. Dia bilang, hargamu memang tinggi, tapi itu berbanding lurus dengan kualitasmu. Sejujurnya aku nggak langsung percaya saat itu. Mungkin karena begitu banyak "nama lain" yang melebihi ketenaranmu.

Hingga pada akhirnya, Sang Penulis Skenario Kehidupan menyatakan bahwa aku harus mengenalmu lebih dalam...

Aku ditunjukkan jalan oleh-Nya ke sebuah perusahaan yang diadopsi olehmu. Di situlah, di kantor itu, untuk pertama kalinya aku bertegur sapa secara langsung denganmu. Meskipun rekan-rekan kerjaku sudah mengenalmu lebih dulu.

Perusahaan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengakrabkan diri denganmu secara cuma-cuma. Karena kehadiranmu membantu mengoptimalkan kinerja mereka.

Tidak denganku.
Orang tuaku tidak membiasakan aku untuk menggunakan benda-benda yang bukan milikku. Oleh karena itu, aku berusaha keras mendapatkanmu dengan uangku, agar kamu benar-benar menjadi milikku!

Ini dia penampakkan mereka. Mereka yang mengenalkanku padamu dan membuatku jatuh cinta. Kamu adalah cara sederhanaku mengenang kebersamaan dengan mereka.



Di antara sekian spesies sejenismu, aku memilih kamu. Ya, HTC ONE MINIku! Bentukmu yang mungil serta rupamu yang elegan dan seksi telah membuatku jatuh hati...

Beberapa rekan kerjaku menyayangkan karena aku memilihmu. Hem, mungkin karena ketidaksempurnaan tubuhmu. Selang beberapa waktu setelah aku memilikimu, muncul beberapa retakan halus di samping tubuhmu. Rekan kerjaku bilang, itulah kekuranganmu.

Tapi aku sama sekali nggak menyesal memilihmu. Sungguh! Ketika aku menjatuhkan pilihan pada pendamping-pendampingku sebelum kamu, hampir selalu ada alasan yang membuatku menyesal dan mengeluh. Tapi tidak dengan kamu... Aku bahagia bersamamu.

Namamu yang kurang berkilau, mengakibatkan nggak banyak yang menyediakan bajumu untuk dijual. Dulu, pendamping-pendampingku sebelum kamu, hampir rutin aku belikan baju baru. Biar nggak bosan. Biar kece. Tapi ketika aku bersamamu, menemukan satu baju saja (yang unik) untukmu sudah sangat beruntung!

Hey, kamu tau?
Secara nggak langsung kamu mengajarkanku untuk menjadi sederhana, untuk tampil apa adanya.
Terima kasih...

Satu tahun berselang setelah pertama kali kita bertemu, aku mulai tergoda memberikan penampilan baru untukmu. Aku berselancar di dunia maya, bergelut dengan beberapa situs dan media sosial. Aku berharap akan menemukan sosok malaikat yang menyediakan bajumu untuk dijual. Aku ingin membelikanmu baju baru yang transparan. Sudah dapat kubayangkan kamu akan semakin seksi memakainya. Pasti cantik!



Tapi ternyata nggak semudah itu mengubah angan-angan menjadi kenyataan. Setiap situs dan media sosial yang aku kunjungi mengatakan bahwa stok bajumu sudah habis. Sepertinya mereka nggak mau re-stock mengingat kehadiranmu kalah saing dengan rival-rivalmu. Aku justru menemukan bajumu yang unik dan lucu-lucu dari akun media sosial Thailand, Jerman, Australi, Prancis dan beberapa negara lain.

Sampai tiba saatnya aku dipertemukan oleh-Nya dengan sosok malaikat itu. Salah satu online shop yang 'katanya' menyediakan bajumu untuk dijual. Lokasinya masih di wilayah Jabodetabek. Aku senang bukan main! Aku segera order dan membuat desain bersama-sama dengan pemilik online shop itu. Kami menghabiskan waktu beberapa hari untuk menentukan desain yang pas untukmu. Ah, aku tidak sabar melihatmu memakainya...

Satu bulan setelah hari fiksasi desain bajumu, pemilik online shop itu mengatakan bahwa bajumu masih dalam proses pembuatan. Padahal berdasarkan perjanjian di awal, dibutuhkan waktu 2 minggu untuk menyelesaikan proses pemesanan. Beberapa saat kemudian, pemilik online shop itu menyampaikan padaku bahwa ia menyerah membuatkan bajumu dan akan segera mengembalikan uangku.

Ah, sedih sekali! Pupus sudah harapanku memakaikanmu baju yang sesuai dengan desainku. Tapi aku belum menyerah. Aku kembali berselancar di dunia maya, berharap menemukan sosok malaikat lainnya.

Perjalan yang panjang...



Ketika hampir menyerah, kemudian kebesaran-Nya mempertemukanku dengan sosok malaikat yang baru. Alhamdulillah. Dia mengatakan bersedia menerima orderan bajumu dan ternyata bajumu akan langsung diimport dari Hongkong!

Lantas, aku bisa apa lagi selain menyanggupi?

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harap kali ini nggak mengecewakan lagi. Sayangnya, malaikat yang satu ini nggak bersedia menerima orderan dengan desain buatan customer, sedangkan aku kurang tertarik dengan desain yang disediakan olehnya. Jadi, kuputuskan membelikanmu baju transparan polos tanpa desain. Langsung dari Hongkong! Ah, kamu pasti akan tetap terlihat sederhana tapi semakin seksi...

Pembayaran sudah aku lunasi. Tinggal menunggu bajumu datang dua minggu lagi. Aku nggak sabar. Aku berdebar.

Menjelang dua minggu setelah  hari pemesanan bajumu (tepatnya pada hari Jumat, 29 Mei 2015), aku mendapat tugas dinas mengikuti sebuah pelatihan di salah satu kampus swasta di daerah Pasar Rebo. Aku membawamu kala itu. Seperti biasa, kamu setia dalam genggamanku. Bahkan, kita sempat sama-sama mengabadikan kegiatan pelatihan itu.

Kegiatan dalam rangka tugas dinas itu selesai pada sore hari. Aku dan dua orang temanku yang duduk satu shaf sejajar dalam kegiatan itu, sebelum pulang janjian untuk melaksanakan salat ashar terlebih dahulu. Aku meletakkanmu dengan cantik dan anggun di dalam tasku. Kemudian aku meninggalkanmu dan tas itu karena aku akan ke toilet untuk mengambil air wudhu. Teman-teman yang lain juga melakukan hal itu.


Setelah dari toilet, aku langsung bergegas melaksanakan salat ashar, berkomunikasi dengan Rabb-ku. Aku nggak membuka lagi tas itu. Aku nggak mengecek keadaanmu. Selesai salat, aku meninggalkan ruangan dan bergegas pulang. Sesampainya di parkiran motor, aku membuka tasku. Bukan. Bukan untuk mengecek keadaanmu. Aku membuka tasku untuk mengambil kunci motor dan karcis parkir yang kuletakkan di dalam situ.

Kemudian aku mengendarai motor menuju rumah di daerah Palbatu. Berusaha menikmati kemacetan ibukota, tanpa ada firasat buruk tentangmu.

Sesampainya di rumah, aku segera membuka tas itu untuk bermesraan denganmu. Aku rindu. Tapi aku nggak bisa menemukanmu! Aku mulai panik dan mengeluarkan semua penghuni dalam tas itu. Semua! Kamu nggak ada. Kamu nggak ada di sana.

Aku ulangi lagi dan lagi, mencarimu di antara semua barang itu. Aku berharap kamu hanya terselip di antara mereka. Mungkin kamu bersembunyi dibalik benda-benda itu. Kamu hanya ingin bercanda denganku. Bukan begitu?



Bukan.

Kamu benar-benar nggak ada di sana. Bahkan setelah aku membongkar tas itu untuk yang kesekian kalinya...
Nggak terasa pipiku mulai basah.
Ya, air mata...

Kamu telah pergi. Menghilang.
Dan aku menangis. Semalaman.

Tangisku pecah. Sesak!



Keluargaku, sahabatku, lelakiku, mencoba menguatkanku dan memintaku untuk bersabar. Ikhlas. 

"Apa yang membuatmu menangis?"
Aku nggak bisa menjawab saat pertanyaan itu diajukan. Aku nggak paham.

Daftar kontak di dalamnya?
Foto-fotonya?
SIM Cardnya?
HPnya?

Entahlah...

Eh tapi, mungkin iya HPnya.
Iya, kamu.
Aku sudah terlanjur sayang.
Sampai-sampai merasa sesak saat kamu tinggalkan.

Aku berkali-kali memohon ampun, meminta maaf kepada Rabb-ku. Aku meminta maaf karena aku terlalu mencintaimu. Padahal DIA pernah berpesan, "jangan terlalu cinta sama harta".

Kini aku tau maksudnya...

Tangisku sempat terhenti karena aku tertidur. Di sepertiga malam aku terbangun. Aku berbenah diri untuk menghadap Rabb-ku. Menjadikan waktu yang spesial itu untuk mengadu. Mencurahkan segalanya di atas sajadah merah dalam kamarku.



Lagi dan lagi aku tersedu.
Lagi dan lagi aku meminta maaf kepada Rabb-ku.
Maafkan aku karena terlalu mencintai hartaku...
Sungguh, maafkan aku.

Sesaat setelah itu, aku merasa lega, seolah ditenangkan oleh-Nya. Betapa baiknya DIA, seberapa pun cacatnya ibadahku dihadapan-Nya, namun kasih sayang-Nya sungguh sempurna.

Pada Sabtu paginya, ketika aku bertekad untuk merajut semangat lagi, menebar senyum lagi, nyatanya di saat itu pula aku goyah lagi... Paket itu tiba! Ya, bajumu dari Hongkong telah tiba. Kamu bisa menebak apa yang terjadi? Aku menangis lagi. Ya, lagi.



Ah, kenapa paket itu seolah meledekku?

Tapi, aku nggak boleh bersedih terlalu lama karenamu.
Kebersediaan-Nya menemaniku di sepertiga malam itu, membuatku lebih rela melepaskanmu.


Di sini, ijinkan aku tetap menyimpan rumahmu dan bajumu, mungkin untuk beberapa waktu.



Selamat jalan HTC ONE MINIku...
Semoga kamu baik-baik saja bersama pendampingmu yang baru.

Tertanda,


- aku, yang merindukan pendampingku -

Kamis, 09 April 2015

Jembatan dalam Persahabatan

Aku terbangun sekitar jam 3 pagi tadi. Yah, seperti orang-orang (di era sekarang) pada umumnya, yang dicari pertama kali adalah smartphone. Jemari pun mulai lincah jogging di atas layar smartphone. Mata ibarat radar yang sibuk menelusuri setiap kata yang muncul di dalam layarnya. Ada beberapa pesan di BBM dan WhatsApp yang belum sempat aku balas karena aku terlanjur tertidur semalam. Mau membalas, tapi, "Ini kan jam 3 pagi. Nanti tidur mereka terganggu karena getaran di smartphone mereka ketika pesan balasanku masuk." batinku. Aku pun mengurungkan niat untuk membalas.

Tiba-tiba aku nggak ngerasa ngantuk. Iseng-iseng aku buka Facebook dan berselancar di timeline. Saat itu aku terpaku pada salah satu postingan dari seseorang yang aku kenal. Yap, aku kenal. Dia tinggal persis di belakang rumahku. Tembok rumah kami saling menempel. Kami sudah saling kenal sejak kami masih sama-sama culun dulu.

Dia memposting sebuah foto tangan yang sedang diinfus dengan background sebuah kasur berlapis sprei berwarna biru. Di foto itu tertera caption 'Semoga besok udah bisa pulang, gak mau di sini lama-lama'.



Apa-apaan ini?
Dia dirawat di Rumah Sakit?
Sakit apa?
Sejak kapan?
Aku sama sekali nggak tau!

Saat itu juga, aku langsung kirim pesan via WhatsApp ke dia (nggak peduli masih jam berapa), "Sahabat macam apa? Gue sampe nggak tau kalo lo dirawat di RS!"

Sudah sejauh ini kah kita sekarang?

Ada rasa yang aneh, yang menggangguku beberapa waktu belakangan ini. Entahlah... Dia merasakannya juga kah?

Aku sama dia udah kenal dari kecil, dari kami masih sama-sama culun, dari kami masih jadi bocah ingusan!

Hampir semua hal kami lewatin bareng. Dari mulai pertama kali dicekokkin bahasa asing (dulu kami les bahasa inggris bareng), main sepeda ke taman komplek, main benteng-bentengan, main polisi-polisian, main kelereng, .....

Hem, jadi senyum-senyum sendiri kalau inget dulu. Ya, kami pernah ada di zaman yang belum 'gila gadget' seperti sekarang.

Dulu kami adalah bocah yang merasakan serunya berlari-larian di jalanan depan rumah, bukan bocah yang cuma bisa duduk / nongkrong di restoran sambil asik main games melalui gadget mereka.
Dulu kami adalah bocah yang merasakan bahagianya berlarian kesana-kemari, nggak peduli terpapar sinar matahari dan bau keringat yang bikin kami nggak wangi lagi.

Waktu terus berjalan...

Kami sama-sama tumbuh menjadi lebih besar. Kami udah nggak pake seragam putih merah lagi. Kami udah nggak main lari-larian lagi. Tapi bukan berarti kami nggak punya cerita untuk dibagi.

Tumbuh menjadi remaja, waktunya kami mengenal rasa. Yap, rasa tertarik pada lawan jenis. Saat itu, kami nggak pernah kehabisan bahan untuk cerita, nggak pernah ada tembok pemisah untuk berbagi. Aku selalu tau dengan siapa dia merajut rasa. Begitu pun dia selalu tau dengan siapa aku jatuh cinta. Hal sekecil apa pun selalu cerita. Nggak peduli itu penting apa nggak. Nggak peduli itu cerita baru atau udah kadaluarsa.

"Kartu lo ada di gue!" kalimat itu yang selalu jadi ancaman jitu diantara kami.

Lucunya, dari dulu sampai detik ini, kami nggak pernah saling menyebut nama.
"jeleq" adalah nama panggilan untuk masing-masing diantara kami.
Rasanya aneh kalau menyebut nama asli.

Mungkin dia masih ingat, ketika di hari ulangtahunnya yang ke-17, aku menyiksanya dengan brutal menggunakan telur dan tepung terigu dalam perjalanan pulang ketika turun dari bus kala itu. Dia langsung berlari pulang ke rumah dan mandi dengan kembang tujuh rupa... :p
Dia sangat menyayangkan jaket barunya jadi bau amis dan nggak bisa dipakai lagi.

Mungkin dia masih ingat, ketika bolos di hari sekolah dan pergi ke Dufan di masa SMA, bersama beberapa teman lainnya.

Mungkin dia masih ingat, ketika kami secara diam-diam makan siang di warteg saat Bulan Ramadhan... :D

Mungkin dia masih ingat, ketika dia menemaniku melalui telepon selama berjam-jam, hanya untuk mendengarkanku menangis karena diduakan oleh seseorang.

Mungkin dia masih ingat, ketika aku bagaikan bocah yang kegirangan menodongkan oleh-oleh setiap kali dia ada trip ke luar kota. Kalung dari Bali, batik dari Yogya...

Mungkin dia masih ingat, ketika aku selalu menagih susu putih hangat buatannya untuk menemani kami berbagi cerita.

Mungkin dia masih ingat, ketika .....

Ah, sudahlah!
Mungkinkah dia masih ingat?

Masa dewasa seperti saat ini, seharusnya kami semakin mudah berkomunikasi. Kecanggihan teknologi menyuguhkan banyak aplikasi, seharusnya nggak ada alasan bagi kami untuk nggak lagi berbagi.

Tapi justru bukan itu yang terjadi...

Dia memang tipikal orang yang sering kali gonta-ganti nomor handphone atau pin BBM. Tapi kami nggak pernah kehilangan jejak. Selalu ada cara untuk tetap berbagi cerita. Sampai suatu ketika, dia sudah terlalu sibuk dengan pasangannya. Ya, kami memang telah memiliki pasangan masing-masing.. Tapi, bukan kah dari dulu juga begitu? Lantas, kenapa sekarang kami nggak bisa tetap seru-seruan seperti dulu?

Aku nggak tau pasti sejak kapan... aku merasa ada jembatan.
Dia ada di sana. Di sudut yang jauh, di ujung jembatan itu...

Pernah terjadi, untuk kesekian kali dia ganti nomor handphone lagi. Aku menanyakan nomor barunya kepada pasangannya. Tapi... "Ada apa? Ada yang mau dibantu disampein?"

Waw!
Rasanya kayak balik ke zaman masih pake alat komunikasi pager. Mau nyampein pesan aja harus lewat operator dulu... :p

Belum lama ini, pasangannya mengontrak di dekat rumah kami. Semakin terasa jarak jembatan itu semakin panjang. Bahkan hampir setiap kali berpapasan, kami hanya bisa bertegur sapa sekedarnya. Bahkan terkadang hanya berlalu tanpa kata. Kaku. Nggak lagi seru.

Rumah kami memang saling berdempet, tapi seolah ada jembatan yang nggak bisa kami sebrangi. Terlalu jauh. Terlalu bahaya.

Sampai di hari ini, haruskah aku tau melalui Facebook saat dia sedang dirawat di Rumah Sakit? Itu pun secara nggak sengaja karena postingannya muncul di timeline-ku. Padahal dulu hampir semua hal kami ceritakan. Mengoceh panjang lebar tanpa bosan.

Aneh rasanya...
Aku mengenalnya sekian tahun. Dari dulu seolah punya dunia yang sama, nggak pernah kehabisan bahan buat cerita. Tapi sekarang dunia kami beda. Yap, semua beda!

Mungkin benar, "nggak akan pernah ada persahabatan diantara cewek dan cowok."

Yap, mungkin benar!
Itu hanya akan merusak perasaan pasangan masing-masing kan?

Aku pernah menanyakan pada pasanganku, "Kamu akan cemburu kalo aku tetep deket sama dia?"
Kesayanganku ini jawab, "Insya Allah kalo sama dia enggak. Karena aku tau gimana kalian. Lagipula dia yang kenal kamu jauh lebih dulu, dibanding aku."

Hem... Jawabannya menyadarkanku bahwa, 'ternyata benar, laki-laki lebih menggunakan logika. Beda sama perempuan yang didominasi perasaan.'

Aku nggak menyalahkan wanita itu kalau cemburu atau nggak nyaman dengan kedekatan kami. Aku juga wanita. Makanya aku memutuskan untuk membiarkan jembatan itu tetap ada. Anggap saja jembatan terlarang. Nggak perlu, atau bahkan nggak boleh disebrangi! Oleh aku, ataupun dia.

Mungkin ini yang terbaik.
Seperti kata salah seorang temanku, "mungkin emang waktunya aja yang udah abis untuk bisa seenak / seseru dulu lagi."

Yap! Waktu kami telah habis...

Terimakasih karena sudah sempat berbagi.
Terimakasih karena sudah menjadi sosok sahabat yang baik selama ini.

SEMOGA LEKAS SEMBUH, JELEQ!

Minggu, 22 Maret 2015

Masjid Lautze dan Muslim Tionghoa




Ada yang sudah pernah mendengar tentang Masjid Lautze?

Sepertinya nama itu memang tidak asing bagiku, tapi sejujurnya aku baru mengetahui lebih jauh beberapa waktu lalu. Bermula ketika aku sedang santai di ruang tamu, menikmati aroma kemalasan di akhir pekan. Kemudian mataku tertarik pada setumpuk majalah di bawah meja ruang tamu. Iseng-iseng aku menarik salah satu majalah.

Majalah AULIA, terbitan bulan April tahun 2012. Yap, tahun 2012! Sudah hampir 3 tahun lalu..

Aku membolak-balikkan halaman di majalah itu. Kemudian aku berhenti di halaman 24. Sebuah artikel yang berjudul "Silaturahim ke Masjid Lautze" berhasil menarik perhatianku. Halaman itu menyajikan gambar sebuah bangunan berbentuk ruko, dengan warna merah menyala yang identik dengan etnis Tionghoa. Sekilas dilihat, tidak ada yang membedakan bangunan ini dengan ruko-ruko lain di sekelilingnya. Akan tetapi jika lebih diperhatikan, akan terlihat orang-orang yang hendak memasuki bangunan itu melepaskan alas kakinya.

Ya. Bangunan mirip ruko tersebut adalah sebuah masjid. Masjid yang diberi nama sesuai dengan lokasinya di Jl. Lautze, yakni Masjid Lautze, merupakan sebuah masjid tanpa kubah apalagi menara. Bagian dalam masjid memperlihatkan warna merah yang kian kental, ditambah dengan warna kuning di dinding dan warna hijau pada tiang-tiang penyangga bangunan. Di dinding-dinding masjid juga terpasang berbagai kaligrafi dan hampir di setiap kaligrafi tersebut ada makna tulisan kaligrafi dalam bahasa China.



Sebagaimana bangunan rumah toko alias ruko, bangunan masid ini memiliki empat lantai. Lantai pertama dan kedua untuk shalat, lantai tiga untuk kantor pengurus masjid, sedangkan lantai empat adalah aula untuk mengadakan berbagai acara dan tempat pertemuan. "Kami ingin di lantai empat itu dipakai untuk tempat pernikahan," ujar Ali Karim Oei, Wakil Ketua Umum Yayasan Karim Oei---yayasan yang mengelola Masjid Lautze ini.

Bermula pada tahun 1991, tokoh-tokoh Muslim dari berbagai organisasi masyarakat, seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, melihat keberadaan etnis Tionghoa yang jumlahnya cukup banyak belum didekati secara optimal oleh masyarakat Muslim. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang malah lari ke agama Nasrani. Pandangan orang keturunan China tentang Islam saat itu sungguh negatif. Untuk itu, didirikanlah masjid di kawasan pecinaan. "Sengaja langsung masuk ke 'sarang macan', supaya mereka mengetahui seperti apa Islam itu sebenarnya," ujarnya.

Dengan menyewa bangunan rumah toko, berdirilah masjid di tengah kawasan etnis Tionghoa. Setelah dua tahun mengontrak, rupanya si pemilik bangunan merasa gerah melihat tempatnya dijadikan sebagai masjid. Ia pun mengancam tidak memperpanjang masa sewa lagi dan menawarkan opsi kepada pengelola masjid untuk membelinya, bila tidak ingin diusir. Yayasan Karim Oei sebagai pengelola masjid lantas dibantu oleh BJ Habibie, yang kala itu menjabat sebagai Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, untuk melunasi sisa kebutuhan dana dalam proses pembelian masjid tersebut. Sehingga Masjid Lautze itu tidak lagi bestatus kontrak.

Keadaan masjid ini sedikit banyak mengundang ketertarikan sejumlah masyarakat Tionghoa, baik yang ada di kawasan sekitar masjid maupun yang ada di berbagai penjuru ibukota. Banyak yang kemudian berpandangan berbeda setelah mengenal Islam lebih jauh. Mereka senang mengetahui bahwa Islam tak membedakan suku dan golongan. 'Cici' dan 'Koko' pengurus masjid akan menyambut baik semua warga Tionghoa yang datang untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam. Lama-lama banyak juga orang China yang kemudian menjadi muallaf di masjid ini.



Di Masjid Lautze, mereka yang telah menjadi muallaf akan mendapatkan bimbingan dan pelajaran. Setiap hari Ahad pagi, ada pengajian yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Siapa pun boleh mengikuti pengajian yang terdiri dari beberapa kelas ini.

Dari mulai kelas dasar, seperti belajar mengaji, shalat, berwudhu, hingga pembinaan aqidah. Ada pula kelas bahasa Mandarin bagi mereka yang tertarik belajar. Menariknya lagi, semua pengajaran itu diberikan gratis, termasuk makan siang bagi seluruh peserta. Pesertanya pun tak harus dari etnis Tionghoa. Siapa pun yang ingin belajar akan diterima dengan tangan terbuka di masjid ini.

Hem... Sepertinya seru!

Ketika membaca artikel deskriptif mengenai Masjid Lautze dari majalah AULIA itu, ada rasa yang mendorongku untuk mencoba bertandang langsung ke daerah Pasar Baru di Jakarta Pusat. Aku ingin melihat langsung! Artikel itu memang dibuat pada tahun 2012, lantas sudah seperti apa Masjid Lautze itu sekarang?

Oh iya, di Bandung ada juga loh Masjid Lautze! Dikenal dengan Masjid Lautze 2 yang berafiliasi dengan Masjid Lautze di Jakarta. Keren ya! ^^

Kamis, 05 Maret 2015

Ketika Anggota KSPA Jatuh Cinta

Pertama kali aku mengenalnya pada saat penutupan MPA.
Satu-satunya organisasi ke-TK-an di sebuah kampus keguruan.

Ya.
KSPA namanya.



Aku ingat saat penutupan MPA (ospek) kala itu...
Lebih dari sepuluh macam organisasi secara bergiliran maju.
Mereka saling unjuk kebolehan di hadapan ribuan mahasiswa baru.

Sebagai mahasiswa baru yang masih lugu, :p
Aku seolah terhipnotis oleh tingkah lucu kakak-kakak KSPA di dalam veldroom saat itu.

"Hem, ngajar TK kayaknya seru!"
Begitulah pikirku saat membaca ulang pamflet yang dibagikan sesaat setelah penutupan.

Dan...
Seolah sudah tercatat dalam skenario-Nya,
langkahku terasa diringankan dan urusanku dimudahkan oleh-Nya,
hingga namaku terselip diantara puluhan nama lain, sebagai calon anggota KSPA.

Kemudian...
Gema Bhakti Taruna mengubah rasa yang semula hanya 'terpesona', menjadi 'cinta' untuk KSPA.
Gema Bhakti Taruna (GBT) merupakan pintu gerbang yang harus dilalui oleh setiap calon anggota KSPA, untuk bisa menjadi anggota KSPA yang sesungguhnya.

Waktu itu, GBT angkatanku berkonsep kemah/camping yang berlokasi di Cidahu.
Tiga hari dua malam berkemah bersama dengan orang-orang baru.
Merasakan serunya naik tronton menuju Cidahu,
tidur di dalam tenda yang bocor malam itu,
membuat yel-yel kelompok yang unik dan lucu,
mengantri kamar mandi hingga bermain ke air terjun dengan berjalan kaki,
senam pagi di alam terbuka yang mempesona,
dan, berbasah-basahan dalam Final Project yang tak akan terlupa!







Setelah itu...
BMWC memperkenalkanku pada makna cinta untuk KSPA, satu langkah lebih maju.
BMWC merupakan pintu gerbang berikutnya, bagi anggota KSPA yang ingin menjadi pengurus di dalamnya.

Waktu itu, BMWC angkatanku berlokasi di rumah salah seorang senior KSPA, tepatnya di Cikampek.
Di sana, dikupas habis luar dan dalamnya KSPA.
Di sana, seluruh peserta diminta untuk berkomitmen menjalankan tugas selama menjadi pengurus nantinya.
Di sana pula, aku merasakan naik mobil bak terbuka menuju lokasi games yang telah disiapkan oleh panitia.





Gerbang berikutnya adalah LMMKA.
Secara singkat, LMMKA merupakan gerbang bagi calon pengajar TK Keliling KSPA.
Dalam kegiatan ini, seluruh peserta akan disuguhkan dengan materi-materi terkait pengajaran, dari mulai metode belajar, karakteristik anak, perangkat pembelajaran dan segala spesiesnya.

Setelah melewati pintu-pintu gerbang itu, aku semakin yakin bahwa aku telah memiliki keluarga baru...

Sebuah ruang sekret sederhana di kampus itu menjadi rumah keduaku.
Gedung G, lantai 1, ruang 102!

Begitu banyak cerita yang dimulai dari sana...
Dari mulai menjadi anggota dan pengajar biasa, menjadi biro Media Center, menjadi biro Usaha Dana, menjadi Kepala Sekolah TK Keliling KSPA (lokasi Manggarai), hingga menjadi Bendahara Umum KSPA.

Aku merekam, merasakan dan menikmati setiap proses tahapannya...

Semula hanya menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang menonton penampilan KSPA pada saat penutupan MPA, hingga akhirnya menjadi bagian dari para pemeran yang tampil di hadapan ribuan mahasiswa baru angkatan berikutnya.





Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan untuk sekedar bermain ke sekret pun masih malu, hingga akhirnya betah berlama-lama di sekret, entah untuk tidur siang selagi nggak ada jam kuliah, ataupun ngerumpi dan ketawa ketiwi sampai malam hari.

Semula hanya menjadi seorang pengajar amatir di TK yang bahkan untuk mengawali kegiatan belajar mengajar pun masih gugup, hingga akhirnya diamanatkan menjadi Kepala Sekolah TK yang tidak hanya mengajar, tapi juga harus berurusan dengan RT/RW setempat, orang tua murid ataupun mengkoordinir para pengajar lainnya.




Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan nggak pernah membayangkan bisa mengenal teman-teman dari organisasi lain, hingga akhirnya diamanatkan menjadi biro Media Center yang harus aktif bercuap-cuap dan bersilaturahmi dengan para tetangga sekret (re: organisasi lain).

Semula hanya menjadi biro Media Center yang bahkan untuk bercuap-cuap dan bersilaturahmi dengan teman-teman dari organisasi lain pun masih merasa canggung, hingga akhirnya diamanatkan menjadi biro Usaha Dana yang harus menyebarkan proposal kerjasama/sponsorship dan lihai berkomunikasi di hadapan pihak-pihak perusahaan besar di luar sana.

Semula hanya menjadi biro Usaha Dana yang bahkan untuk menerima dana sekian juta dari perusahaan besar pun aku masih merasa kikuk, hingga akhirnya diamanatkan menjadi seorang Bendahara Umum yang harus mengelola keuangan milik KSPA sebanyak puluhan juta.

Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan ngga berani angkat suara selama rangkaian kegiatan RTA, hingga akhirnya merasakan duduk di 'kursi panas' untuk mempertanggungjawabakan kinerja selama satu periode kepengurusan di hadapan seluruh anggota KSPA.


Semula hanya menjadi anggota atau pengurus KSPA yang mengundang alumni untuk datang ke beberapa acara yang akan diselenggarakan. Hingga akhirnya bisa menjadi alumni yang justru diundang untuk datang ke acara yang diselenggarkaan oleh KSPA.




KSPA membawaku ke dalam sebuah keluarga baru.
KSPA mengajarkanku tentang persaudaraan dan cinta (termasuk mengenalkanku pada 'si cinta', dalam wujud seorang pria). :D



KSPA membingkai semua kisah tentang kebersamaan, perjuangan, gelak tawa yang diindahkan, hingga air mata yang tak tertahankan...
Setiap hari, KSPA selalu berhasil membuatku jatuh hati lebih dalam lagi!




Selamat Ulang Tahun yang ke-33 KSPA!
Semoga terus berjaya...
Selalu diiringi cinta, doa dan barokah-Nya.

Minggu, 22 Februari 2015

it's about (F)r(I)endshi(P) !

Berawal di tahun 2009.
Sebuah kampus keguruan di Jakarta menjembatani perkenalan diantara kita.
Dalam satu jurusan yang sama.
Dalam satu kelas yang sama.

Entah metode hukum alam macam apa yang (hingga kini) menyatukan kita dari sekian banyak jumlah mahasiswa di sana.

Seolah sudah menjadi sebuah rutinitas diantara kita untuk memberikan kejutan, ketika salah seorang memperingati tanggal kelahiran. Berunding tentang kado apa yang akan diberikan, menghitung besarnya biaya untuk patungan, hingga menyiapkan kue untuk memeriahkan perayaan. Bahkan penyusunan berbagai rencana, drama ataupun sandiwara juga turut serta membumbui rutinitas itu.

Aku ingat ketika kita membajak kunci kamar kosan Saung Kuring untuk memberi kejutan dari dalam kamar (ketika pemilik kamarnya justru sedang di luar). Masih terekam dalam ingatan, ekspresi wajahnya yang shock ketika membuka pintu kamar dan melihat boneka Angry Bird yang sangat besar!
Hey, masih adakah boneka itu sekarang?

Aku ingat ketika menyerbu Kelurahan Setiadarma (Tambun Selatan) untuk memberikan kejutan di rumahnya. Tanpa direncakan, ketika kita datang, ternyata 'sang target sasaran' sedang mandi. Kita langsung masuk ke dalam kamarnya dan menyiapkan kejutan di sana. Hem, ternyata Tuan Putri mandinya lama juga ya. Untung saja ketika masuk kamar sudah pakai baju lengkap (ngga cuma pakai handuk). Hihi.
Bagaimana rasanya ketika selesai mandi langsung melihat kue dengan lilin yang menyala di dalam kamar?

Aku ingat ketika kita mempersiapkan kejutan di rumahku sepulang dari kondangan kala itu. Tapi justru 'sang target sasaran' susah sekali untuk diajak masuk ke dalam rumah. Bahkan sampai kue pun bermandikan cairan lilin (karena sudah dinyalakan terlalu lama). Kaki pun sampai pegal berdiri di balik pintu, sedangkan 'sang target sasaran' justru sibuk berbincang di luar, dengan sang pujaan hatinya itu.
Ah, menggemaskan sekali saat itu!

Aku ingat ketika kita pagi-pagi blusukan ke Penggilingan-Cakung untuk memberikan kejutan di sana. Saat itu 'sang target sasaran' belum mandi. Aku masih ingat ekspresi kaget pada muka bantalnya itu. Dia kekeuh ngga mau difoto karena katanya mau mandi dulu. Akhirnya kita pun rela menunggu di ruang tamu sambil cemal-cemil cantik.
Ya iya atuh rela, cemilannya banyak syekaliiii~ :D

Aku ingat ketika kita berkunjung ke Perumnas III (Bekasi Timur) untuk memberikan kejutan di sana. Karena hampir setiap tahun, tanggal kelahirannya bertepatan dengan liburan kuliah, maka hampir setiap tahun pula kita bikin rusuh di rumahnya.
Target sasaran ini yang paling susah dibikin terkejut ya :D

Aku ingat bahwa hampir setiap tahun kita memberi kejutan untuk dua orang sekaligus (karena tanggal lahirnya deketan). Hem, jadi, kita belum pernah bikin rusuh di Kampung Melayu dan Rorotan ya? :P

Aku ingat ketika kalian memberikan kejutan di selasar fakultas kita. Saat itu aku diajak oleh beberapa orang ke kamar mandi dulu, baru kemudian digiring ke selasar. Di sana, sudah ada beberapa orang yang lain sedang memegangi kue dengan lilin yang menyala dan sebuah kotak besar berisi helm.
Hem, agak susah loh waktu itu bawa pulang kadonya. :D

Waktu memang telah berlalu.
Tapi kuharap kalian masih menyimpan memori itu.

Sekarang kita telah menjadi sarjana.
Sekarang kita telah mencoba menjadi pribadi yang bermanfaat di tempat kerja.
Tidak lagi menuntut ilmu di ruangan yang sama.
Tidak lagi dapat semudah itu bertatap muka.

Tapi...
Sebuah aplikasi dalam smartphone membantu kita untuk tetap berkomunikasi.

Yap!
Kita masih tetap dapat bikin rusuh dalam grup whatsApp.

Bahkan grup whatsApp sangat membantu untuk tetap menghidupkan rutinitas itu.
Setiap kali ada yang akan memperingati tanggal lahirnya, kita akan membuat grup baru dan 'sang target sasaran' akan kita asingkan dari grup itu.
Dalam grup itulah kita akan berunding.

Masih tentang hal yang sama.
Masih tentang barang apa yang akan menjadi kadonya.
Masih tentang berapa biaya yang kita butuhkan untuk membelinya.
Namun perbedaannya adalah bagaimana teknis pemberiannya.

Karena tak lagi dapat dengan mudah bertatap muka, maka seolah semua kita lakukan lewat udara!

ATM dan penyedia jasa pengiriman barang pun menjadi senjata kita beberapa waktu belakangan ini.
Kado yang telah kita siapkan, akan kita kirimkan.
Berharap dapat mendarat dengan selamat di rumah 'sang target sasaran' pada waktu yang tepat.
Biaya patungan pun kita kirimkan kepada salah satu diantara kita yang menjadi penanggungjawab pengiriman.

Dan...
Kemarin adalah tanggal kelahiranku.
Paket ini telah mendarat dengan selamat dan di waktu yang tepat.



Terimakasih banyak!

Kado yang sangat cantik.
Berbeda dengan aku, yang bahkan tak pernah bisa mengelola rasa rindu untuk kalian dengan apik.

Keadaan memang menghalangi kita untuk saling bertatap.
Tapi, semoga bukan cuma aku yang tersiksa di sini, karena menahan rindu dan penuh harap.

Ini adalah tahun pertamaku mendapat kiriman kado dari kalian.
Tahun lalu aku masih dapat merasakan kejutan secara langsung, setelah kita menandatangani ijazah kelulusan.

Ternyata seperti ini rasanya...
Kado cantik itu memang sampai di rumahku tepat pada waktunya.
Tapi seandainya saja aku boleh meminta,
Aku ingin kalian saja yang menjadi isi di dalam paketnya.

Aku merindukan kebersamaan kita.
Aku merindukan saat seperti ini...

21 Februari 2013

21 Februari 2013

21 Oktober 2013


21 Juni 2012

21 Oktober 2013

28 September 2012

28 September 2012

27 Agustus 2013

27 Agustus 2013

24 Januari 2014

11 Januari 2014



Aku rindu menyuapi kue dengan tanganku untuk kalian, seperti ini...



21 Februari 2014


Ah, rindu itu candu!

Teruntuk wanita-wanita kesayanganku,
terimakasih untuk kado cantiknya itu.
terimakasih telah menjadi teman-teman yang baik untukku.
semoga kalian di sana sehat selalu.
jangan pernah lelah untuk menjadi pribadi yang bermanfaat di lingkunganmu.
semoga Allah berkenan menjaga pertemanan ini tanpa batas waktu.

-dari aku, yang tersiksa oleh rindu-