Minggu, 22 Maret 2015

Masjid Lautze dan Muslim Tionghoa




Ada yang sudah pernah mendengar tentang Masjid Lautze?

Sepertinya nama itu memang tidak asing bagiku, tapi sejujurnya aku baru mengetahui lebih jauh beberapa waktu lalu. Bermula ketika aku sedang santai di ruang tamu, menikmati aroma kemalasan di akhir pekan. Kemudian mataku tertarik pada setumpuk majalah di bawah meja ruang tamu. Iseng-iseng aku menarik salah satu majalah.

Majalah AULIA, terbitan bulan April tahun 2012. Yap, tahun 2012! Sudah hampir 3 tahun lalu..

Aku membolak-balikkan halaman di majalah itu. Kemudian aku berhenti di halaman 24. Sebuah artikel yang berjudul "Silaturahim ke Masjid Lautze" berhasil menarik perhatianku. Halaman itu menyajikan gambar sebuah bangunan berbentuk ruko, dengan warna merah menyala yang identik dengan etnis Tionghoa. Sekilas dilihat, tidak ada yang membedakan bangunan ini dengan ruko-ruko lain di sekelilingnya. Akan tetapi jika lebih diperhatikan, akan terlihat orang-orang yang hendak memasuki bangunan itu melepaskan alas kakinya.

Ya. Bangunan mirip ruko tersebut adalah sebuah masjid. Masjid yang diberi nama sesuai dengan lokasinya di Jl. Lautze, yakni Masjid Lautze, merupakan sebuah masjid tanpa kubah apalagi menara. Bagian dalam masjid memperlihatkan warna merah yang kian kental, ditambah dengan warna kuning di dinding dan warna hijau pada tiang-tiang penyangga bangunan. Di dinding-dinding masjid juga terpasang berbagai kaligrafi dan hampir di setiap kaligrafi tersebut ada makna tulisan kaligrafi dalam bahasa China.



Sebagaimana bangunan rumah toko alias ruko, bangunan masid ini memiliki empat lantai. Lantai pertama dan kedua untuk shalat, lantai tiga untuk kantor pengurus masjid, sedangkan lantai empat adalah aula untuk mengadakan berbagai acara dan tempat pertemuan. "Kami ingin di lantai empat itu dipakai untuk tempat pernikahan," ujar Ali Karim Oei, Wakil Ketua Umum Yayasan Karim Oei---yayasan yang mengelola Masjid Lautze ini.

Bermula pada tahun 1991, tokoh-tokoh Muslim dari berbagai organisasi masyarakat, seperti Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, melihat keberadaan etnis Tionghoa yang jumlahnya cukup banyak belum didekati secara optimal oleh masyarakat Muslim. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang malah lari ke agama Nasrani. Pandangan orang keturunan China tentang Islam saat itu sungguh negatif. Untuk itu, didirikanlah masjid di kawasan pecinaan. "Sengaja langsung masuk ke 'sarang macan', supaya mereka mengetahui seperti apa Islam itu sebenarnya," ujarnya.

Dengan menyewa bangunan rumah toko, berdirilah masjid di tengah kawasan etnis Tionghoa. Setelah dua tahun mengontrak, rupanya si pemilik bangunan merasa gerah melihat tempatnya dijadikan sebagai masjid. Ia pun mengancam tidak memperpanjang masa sewa lagi dan menawarkan opsi kepada pengelola masjid untuk membelinya, bila tidak ingin diusir. Yayasan Karim Oei sebagai pengelola masjid lantas dibantu oleh BJ Habibie, yang kala itu menjabat sebagai Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, untuk melunasi sisa kebutuhan dana dalam proses pembelian masjid tersebut. Sehingga Masjid Lautze itu tidak lagi bestatus kontrak.

Keadaan masjid ini sedikit banyak mengundang ketertarikan sejumlah masyarakat Tionghoa, baik yang ada di kawasan sekitar masjid maupun yang ada di berbagai penjuru ibukota. Banyak yang kemudian berpandangan berbeda setelah mengenal Islam lebih jauh. Mereka senang mengetahui bahwa Islam tak membedakan suku dan golongan. 'Cici' dan 'Koko' pengurus masjid akan menyambut baik semua warga Tionghoa yang datang untuk mengetahui lebih dalam tentang Islam. Lama-lama banyak juga orang China yang kemudian menjadi muallaf di masjid ini.



Di Masjid Lautze, mereka yang telah menjadi muallaf akan mendapatkan bimbingan dan pelajaran. Setiap hari Ahad pagi, ada pengajian yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Siapa pun boleh mengikuti pengajian yang terdiri dari beberapa kelas ini.

Dari mulai kelas dasar, seperti belajar mengaji, shalat, berwudhu, hingga pembinaan aqidah. Ada pula kelas bahasa Mandarin bagi mereka yang tertarik belajar. Menariknya lagi, semua pengajaran itu diberikan gratis, termasuk makan siang bagi seluruh peserta. Pesertanya pun tak harus dari etnis Tionghoa. Siapa pun yang ingin belajar akan diterima dengan tangan terbuka di masjid ini.

Hem... Sepertinya seru!

Ketika membaca artikel deskriptif mengenai Masjid Lautze dari majalah AULIA itu, ada rasa yang mendorongku untuk mencoba bertandang langsung ke daerah Pasar Baru di Jakarta Pusat. Aku ingin melihat langsung! Artikel itu memang dibuat pada tahun 2012, lantas sudah seperti apa Masjid Lautze itu sekarang?

Oh iya, di Bandung ada juga loh Masjid Lautze! Dikenal dengan Masjid Lautze 2 yang berafiliasi dengan Masjid Lautze di Jakarta. Keren ya! ^^

Kamis, 05 Maret 2015

Ketika Anggota KSPA Jatuh Cinta

Pertama kali aku mengenalnya pada saat penutupan MPA.
Satu-satunya organisasi ke-TK-an di sebuah kampus keguruan.

Ya.
KSPA namanya.



Aku ingat saat penutupan MPA (ospek) kala itu...
Lebih dari sepuluh macam organisasi secara bergiliran maju.
Mereka saling unjuk kebolehan di hadapan ribuan mahasiswa baru.

Sebagai mahasiswa baru yang masih lugu, :p
Aku seolah terhipnotis oleh tingkah lucu kakak-kakak KSPA di dalam veldroom saat itu.

"Hem, ngajar TK kayaknya seru!"
Begitulah pikirku saat membaca ulang pamflet yang dibagikan sesaat setelah penutupan.

Dan...
Seolah sudah tercatat dalam skenario-Nya,
langkahku terasa diringankan dan urusanku dimudahkan oleh-Nya,
hingga namaku terselip diantara puluhan nama lain, sebagai calon anggota KSPA.

Kemudian...
Gema Bhakti Taruna mengubah rasa yang semula hanya 'terpesona', menjadi 'cinta' untuk KSPA.
Gema Bhakti Taruna (GBT) merupakan pintu gerbang yang harus dilalui oleh setiap calon anggota KSPA, untuk bisa menjadi anggota KSPA yang sesungguhnya.

Waktu itu, GBT angkatanku berkonsep kemah/camping yang berlokasi di Cidahu.
Tiga hari dua malam berkemah bersama dengan orang-orang baru.
Merasakan serunya naik tronton menuju Cidahu,
tidur di dalam tenda yang bocor malam itu,
membuat yel-yel kelompok yang unik dan lucu,
mengantri kamar mandi hingga bermain ke air terjun dengan berjalan kaki,
senam pagi di alam terbuka yang mempesona,
dan, berbasah-basahan dalam Final Project yang tak akan terlupa!







Setelah itu...
BMWC memperkenalkanku pada makna cinta untuk KSPA, satu langkah lebih maju.
BMWC merupakan pintu gerbang berikutnya, bagi anggota KSPA yang ingin menjadi pengurus di dalamnya.

Waktu itu, BMWC angkatanku berlokasi di rumah salah seorang senior KSPA, tepatnya di Cikampek.
Di sana, dikupas habis luar dan dalamnya KSPA.
Di sana, seluruh peserta diminta untuk berkomitmen menjalankan tugas selama menjadi pengurus nantinya.
Di sana pula, aku merasakan naik mobil bak terbuka menuju lokasi games yang telah disiapkan oleh panitia.





Gerbang berikutnya adalah LMMKA.
Secara singkat, LMMKA merupakan gerbang bagi calon pengajar TK Keliling KSPA.
Dalam kegiatan ini, seluruh peserta akan disuguhkan dengan materi-materi terkait pengajaran, dari mulai metode belajar, karakteristik anak, perangkat pembelajaran dan segala spesiesnya.

Setelah melewati pintu-pintu gerbang itu, aku semakin yakin bahwa aku telah memiliki keluarga baru...

Sebuah ruang sekret sederhana di kampus itu menjadi rumah keduaku.
Gedung G, lantai 1, ruang 102!

Begitu banyak cerita yang dimulai dari sana...
Dari mulai menjadi anggota dan pengajar biasa, menjadi biro Media Center, menjadi biro Usaha Dana, menjadi Kepala Sekolah TK Keliling KSPA (lokasi Manggarai), hingga menjadi Bendahara Umum KSPA.

Aku merekam, merasakan dan menikmati setiap proses tahapannya...

Semula hanya menjadi bagian dari ribuan mahasiswa baru yang menonton penampilan KSPA pada saat penutupan MPA, hingga akhirnya menjadi bagian dari para pemeran yang tampil di hadapan ribuan mahasiswa baru angkatan berikutnya.





Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan untuk sekedar bermain ke sekret pun masih malu, hingga akhirnya betah berlama-lama di sekret, entah untuk tidur siang selagi nggak ada jam kuliah, ataupun ngerumpi dan ketawa ketiwi sampai malam hari.

Semula hanya menjadi seorang pengajar amatir di TK yang bahkan untuk mengawali kegiatan belajar mengajar pun masih gugup, hingga akhirnya diamanatkan menjadi Kepala Sekolah TK yang tidak hanya mengajar, tapi juga harus berurusan dengan RT/RW setempat, orang tua murid ataupun mengkoordinir para pengajar lainnya.




Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan nggak pernah membayangkan bisa mengenal teman-teman dari organisasi lain, hingga akhirnya diamanatkan menjadi biro Media Center yang harus aktif bercuap-cuap dan bersilaturahmi dengan para tetangga sekret (re: organisasi lain).

Semula hanya menjadi biro Media Center yang bahkan untuk bercuap-cuap dan bersilaturahmi dengan teman-teman dari organisasi lain pun masih merasa canggung, hingga akhirnya diamanatkan menjadi biro Usaha Dana yang harus menyebarkan proposal kerjasama/sponsorship dan lihai berkomunikasi di hadapan pihak-pihak perusahaan besar di luar sana.

Semula hanya menjadi biro Usaha Dana yang bahkan untuk menerima dana sekian juta dari perusahaan besar pun aku masih merasa kikuk, hingga akhirnya diamanatkan menjadi seorang Bendahara Umum yang harus mengelola keuangan milik KSPA sebanyak puluhan juta.

Semula hanya menjadi anggota biasa KSPA yang bahkan ngga berani angkat suara selama rangkaian kegiatan RTA, hingga akhirnya merasakan duduk di 'kursi panas' untuk mempertanggungjawabakan kinerja selama satu periode kepengurusan di hadapan seluruh anggota KSPA.


Semula hanya menjadi anggota atau pengurus KSPA yang mengundang alumni untuk datang ke beberapa acara yang akan diselenggarakan. Hingga akhirnya bisa menjadi alumni yang justru diundang untuk datang ke acara yang diselenggarkaan oleh KSPA.




KSPA membawaku ke dalam sebuah keluarga baru.
KSPA mengajarkanku tentang persaudaraan dan cinta (termasuk mengenalkanku pada 'si cinta', dalam wujud seorang pria). :D



KSPA membingkai semua kisah tentang kebersamaan, perjuangan, gelak tawa yang diindahkan, hingga air mata yang tak tertahankan...
Setiap hari, KSPA selalu berhasil membuatku jatuh hati lebih dalam lagi!




Selamat Ulang Tahun yang ke-33 KSPA!
Semoga terus berjaya...
Selalu diiringi cinta, doa dan barokah-Nya.

Minggu, 22 Februari 2015

it's about (F)r(I)endshi(P) !

Berawal di tahun 2009.
Sebuah kampus keguruan di Jakarta menjembatani perkenalan diantara kita.
Dalam satu jurusan yang sama.
Dalam satu kelas yang sama.

Entah metode hukum alam macam apa yang (hingga kini) menyatukan kita dari sekian banyak jumlah mahasiswa di sana.

Seolah sudah menjadi sebuah rutinitas diantara kita untuk memberikan kejutan, ketika salah seorang memperingati tanggal kelahiran. Berunding tentang kado apa yang akan diberikan, menghitung besarnya biaya untuk patungan, hingga menyiapkan kue untuk memeriahkan perayaan. Bahkan penyusunan berbagai rencana, drama ataupun sandiwara juga turut serta membumbui rutinitas itu.

Aku ingat ketika kita membajak kunci kamar kosan Saung Kuring untuk memberi kejutan dari dalam kamar (ketika pemilik kamarnya justru sedang di luar). Masih terekam dalam ingatan, ekspresi wajahnya yang shock ketika membuka pintu kamar dan melihat boneka Angry Bird yang sangat besar!
Hey, masih adakah boneka itu sekarang?

Aku ingat ketika menyerbu Kelurahan Setiadarma (Tambun Selatan) untuk memberikan kejutan di rumahnya. Tanpa direncakan, ketika kita datang, ternyata 'sang target sasaran' sedang mandi. Kita langsung masuk ke dalam kamarnya dan menyiapkan kejutan di sana. Hem, ternyata Tuan Putri mandinya lama juga ya. Untung saja ketika masuk kamar sudah pakai baju lengkap (ngga cuma pakai handuk). Hihi.
Bagaimana rasanya ketika selesai mandi langsung melihat kue dengan lilin yang menyala di dalam kamar?

Aku ingat ketika kita mempersiapkan kejutan di rumahku sepulang dari kondangan kala itu. Tapi justru 'sang target sasaran' susah sekali untuk diajak masuk ke dalam rumah. Bahkan sampai kue pun bermandikan cairan lilin (karena sudah dinyalakan terlalu lama). Kaki pun sampai pegal berdiri di balik pintu, sedangkan 'sang target sasaran' justru sibuk berbincang di luar, dengan sang pujaan hatinya itu.
Ah, menggemaskan sekali saat itu!

Aku ingat ketika kita pagi-pagi blusukan ke Penggilingan-Cakung untuk memberikan kejutan di sana. Saat itu 'sang target sasaran' belum mandi. Aku masih ingat ekspresi kaget pada muka bantalnya itu. Dia kekeuh ngga mau difoto karena katanya mau mandi dulu. Akhirnya kita pun rela menunggu di ruang tamu sambil cemal-cemil cantik.
Ya iya atuh rela, cemilannya banyak syekaliiii~ :D

Aku ingat ketika kita berkunjung ke Perumnas III (Bekasi Timur) untuk memberikan kejutan di sana. Karena hampir setiap tahun, tanggal kelahirannya bertepatan dengan liburan kuliah, maka hampir setiap tahun pula kita bikin rusuh di rumahnya.
Target sasaran ini yang paling susah dibikin terkejut ya :D

Aku ingat bahwa hampir setiap tahun kita memberi kejutan untuk dua orang sekaligus (karena tanggal lahirnya deketan). Hem, jadi, kita belum pernah bikin rusuh di Kampung Melayu dan Rorotan ya? :P

Aku ingat ketika kalian memberikan kejutan di selasar fakultas kita. Saat itu aku diajak oleh beberapa orang ke kamar mandi dulu, baru kemudian digiring ke selasar. Di sana, sudah ada beberapa orang yang lain sedang memegangi kue dengan lilin yang menyala dan sebuah kotak besar berisi helm.
Hem, agak susah loh waktu itu bawa pulang kadonya. :D

Waktu memang telah berlalu.
Tapi kuharap kalian masih menyimpan memori itu.

Sekarang kita telah menjadi sarjana.
Sekarang kita telah mencoba menjadi pribadi yang bermanfaat di tempat kerja.
Tidak lagi menuntut ilmu di ruangan yang sama.
Tidak lagi dapat semudah itu bertatap muka.

Tapi...
Sebuah aplikasi dalam smartphone membantu kita untuk tetap berkomunikasi.

Yap!
Kita masih tetap dapat bikin rusuh dalam grup whatsApp.

Bahkan grup whatsApp sangat membantu untuk tetap menghidupkan rutinitas itu.
Setiap kali ada yang akan memperingati tanggal lahirnya, kita akan membuat grup baru dan 'sang target sasaran' akan kita asingkan dari grup itu.
Dalam grup itulah kita akan berunding.

Masih tentang hal yang sama.
Masih tentang barang apa yang akan menjadi kadonya.
Masih tentang berapa biaya yang kita butuhkan untuk membelinya.
Namun perbedaannya adalah bagaimana teknis pemberiannya.

Karena tak lagi dapat dengan mudah bertatap muka, maka seolah semua kita lakukan lewat udara!

ATM dan penyedia jasa pengiriman barang pun menjadi senjata kita beberapa waktu belakangan ini.
Kado yang telah kita siapkan, akan kita kirimkan.
Berharap dapat mendarat dengan selamat di rumah 'sang target sasaran' pada waktu yang tepat.
Biaya patungan pun kita kirimkan kepada salah satu diantara kita yang menjadi penanggungjawab pengiriman.

Dan...
Kemarin adalah tanggal kelahiranku.
Paket ini telah mendarat dengan selamat dan di waktu yang tepat.



Terimakasih banyak!

Kado yang sangat cantik.
Berbeda dengan aku, yang bahkan tak pernah bisa mengelola rasa rindu untuk kalian dengan apik.

Keadaan memang menghalangi kita untuk saling bertatap.
Tapi, semoga bukan cuma aku yang tersiksa di sini, karena menahan rindu dan penuh harap.

Ini adalah tahun pertamaku mendapat kiriman kado dari kalian.
Tahun lalu aku masih dapat merasakan kejutan secara langsung, setelah kita menandatangani ijazah kelulusan.

Ternyata seperti ini rasanya...
Kado cantik itu memang sampai di rumahku tepat pada waktunya.
Tapi seandainya saja aku boleh meminta,
Aku ingin kalian saja yang menjadi isi di dalam paketnya.

Aku merindukan kebersamaan kita.
Aku merindukan saat seperti ini...

21 Februari 2013

21 Februari 2013

21 Oktober 2013


21 Juni 2012

21 Oktober 2013

28 September 2012

28 September 2012

27 Agustus 2013

27 Agustus 2013

24 Januari 2014

11 Januari 2014



Aku rindu menyuapi kue dengan tanganku untuk kalian, seperti ini...



21 Februari 2014


Ah, rindu itu candu!

Teruntuk wanita-wanita kesayanganku,
terimakasih untuk kado cantiknya itu.
terimakasih telah menjadi teman-teman yang baik untukku.
semoga kalian di sana sehat selalu.
jangan pernah lelah untuk menjadi pribadi yang bermanfaat di lingkunganmu.
semoga Allah berkenan menjaga pertemanan ini tanpa batas waktu.

-dari aku, yang tersiksa oleh rindu-

Selasa, 20 Januari 2015

Makhluk Hina Mengutarakan Rasa



Wahai DZAT Yang Maha Mulia,
Berkenankah Engkau mendengarkan makhluk hina mengutarakan rasa?

Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah,
La hawla wala quwwata illa billah...

Maafkan aku karena seringkali mengeluh di beberapa waktu.
Mengeluh karena sakitku.

Padahal seharusnya aku tau,

"Tidak ada yang menimpa seorang muslim kepenatan, sakit yang berkesinambungan (kronis), kebimbangan, kesedihan, penderitaan, kesusahan, sampai pun duri yang ia tertusuk karenanya, kecuali dengan itu Allah menghapus dosanya." (Hadist diriwayatkan oleh Al-Bukhari)

Ya.

Bodohnya aku.
Tak seharusnya aku mengeluh kepada-Mu.
Sudah sepantasnya Engkau menghukumku atas sekian banyak kesalahanku.

Bodohnya aku.
Bermimpi dan berharap dapat bersama-sama dengan kekasih-Mu di dalam surga-Mu.
Tapi diberikan sakit seperti ini saja aku tak mampu.

Bodohnya aku.
Berani berharap dan mendamba rasa cinta dari-Mu.
Tapi seringkali mendzalimi diri dan bermaksiat kepada-Mu.


Seharusnya aku tau diri!
Mengijinkan aku menginjakkan satu kaki di surga-Mu pun mungkin Engkau tak sudi.

Masih diberikan ijin untuk menghirup udara di dunia saja,
sudah menunjukkan kebaikan-Mu yang sangat luar biasa.


Bagaimana bisa,
hamba-Mu yang hina, mendambakan cinta dari Sang Maha CINTA?

Bagaimana bisa,
hamba-Mu yang hina, memimpikan kebersamaan dengan kekasih-Mu di surga?

Bagaimana bisa,
hamba-Mu yang hina, mengharapkan hadir-Mu sebagai pelipur lara saat diserang kejamnya dunia?

Bagaimana bisa,
hamba-Mu yang hina, masih berani menampang muka dan menodongkan segala pinta?

Wahai DZAT pengabul segala pinta,
Engkau sepenuhnya berhak untuk menahan atau mengabulkan berbagai doa.
Mungkin aku terlalu hina untuk meminta,
Tapi...
masih bolehkah aku mengutarakan segala rasa?


Tertanda,


hamba-Mu yang hina

Sabtu, 10 Januari 2015

Bolehkah Aku Merindukannya?

Rindu?
"sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu"--Kamus Besar Bahasa Indonesia.




Kenapa mereka memberi nama rasa itu dengan kata 'rindu'?


Entahlah.
Yang aku tau, rasa itu berhasil menyiksaku sejak akhir tahun lalu.


Bolehkah aku bertanya kepada-Mu, wahai DZAT Yang Maha Tau?

"Mengapa rasa rindu sekejam itu menyiksaku?"


Maafkan aku karena aku merindukannya.
Keputusanku dengannya untuk tidak saling bertegur sapa, memancing rasa rindu bergejolak seolah murka.
Aku dibuatnya tak berdaya!

Ingin rasanya aku berlari ke arah-Mu dan mengembalikan semua rasa ini pada-Mu.
Karena hanya Engkau Yang Maha Bisa, mengelola dengan tepat segala rasa.

Jangan tanya berapa kali aku tergoda untuk menyapa.
Jangan tanya berapa kali aku ingin tau dia sedang apa.
Jangan tanya berapa kali aku hanyut dalam rasa ingin jumpa.

Sekian kali aku diserang tanya, "apakah dia merindukanku juga?"

Astaghfirullah...

Maafkan aku jika aku salah telah merindukannya...


"Engkau adalah DZAT Maha Pencemburu," aku ingat ucapan itu dari salah seorang guruku.
Cemburukah Engkau karena aku merindukan salah seorang makhluk-Mu?
Cemburukah Engkau karena aku telah menduakan cinta-Mu dengan dia yang bahkan belum menjadi halalku?


Sungguh maafkan aku.
Aku mohon jangan pernah bosan mengajarkanku cara mengelola rasa rindu itu.
Aku mohon jangan tinggalkan aku agar aku tak keliru mengartikan rasa cinta sebagai anugerah-Mu.

Kukembalikan semua rasa kepada Engkau, wahai Sang Maha CINTA.
Kutitip dia dalam penjagaan-Mu Yang Maha Sempurna.

Mungkin tingkahnya akan sedikit merepotkan, tapi kumohon janganlah Engkau tinggalkan.
Ijinkan peluk-Mu menjadi sandaran, ketika kejamnya dunia membuatnya tertekan.

Cubit dia, jika dia masih saja bangun siang dan terlambat sholat shubuhnya.
Jewer kupingnya, jika dia masih bermalas-malasan melaksanakan dua rakaat di waktu dhuha.
Ambil koreknya, jika di hari itu dia masih gagal menahan diri untuk tidak merokok lebih dari tiga.
Sita HPnya, jika masih belum teratur jam makannya dan masih sering begadang di malam harinya.
Sita pula motornya, jika dia masih lalai ke Mushola untuk menjadi bagian dari jamaah sholat di sana.
Jangan ijinkan dia aktif di karang taruna, jika dia masih belum bisa serius menyelesaikan Tugas Akhirnya.

wahai Sang Maha CINTA,
Kutitipkan pula semua rasa yang ada di dalam diriku untuknya.
Jika Kau mengijinkan, tolong sampaikan padanya betapa aku merindukannya.
Atau jika Kau berkenan, tolong Kau simpankan jika memang rasa ini tak boleh sampai kepadanya.

wahai DZAT Yang Maha Mendengar segala pinta,
Semoga Engkau tak bosan jika aku sering menyebut namanya dalam doa.

Maaf Tuk Berpisah!



Memang berat meninggalkan orang yang pernah kita cintai
Namun lebih berat lagi kalau harus bersamanya tanpa ikatan yang halal.


Memang terasa ada yang kurang saat tak ada lagi sms darinya
Mungkin juga terasa hampa saat tak lagi melihat senyumannya
Namun, kalau itu untuk kemaslahatan kau berdua, kenapa tidak?


Bukankah kalau ia memang jodohmu,
ia akan kembali padamu
Namun tidak dalam keadaan seperti ini.
Saat kau dan ia tak belum bertaubat dan memperbaiki diri.
Saat kau dan dia menikmati hubungan yang tak diridhoiNya


Ikhlaskan dirinya..
Yakinlah tulang rusuk itu tak kan tertukar.
Mulailah dengan mengurangi komunikasi dengannya.
Minimalisir perjumpaan dengannya.
Bukan untuk memutuskan silaturahim, namun ini proses terbaik dalam proses perbaikan diri.


Kembalikan lagi hadiah darinya,
atau kau bisa sedekahkan pada orang yang membutuhkannya
Itu jauh lebih baik.


Pasti ada godaan untuk kembali menerimanya
Pasti banyak cacian dari sekelilingmu
Tapi tetaplah di jalan kebenaran
Cukuplah Allah yang Maha Tahu kesungguhanmu
Biarlah Dia yang menyeka air matamu
Semoga ia gantikan dengan ganjaran mata air surgaNya


Lalu,
fokuskan energi untuk memperbaiki ibadahmu,
juga akhlakmu terhadap kedua orang tuamu.
Lihatlah di sekelilingmu, ada banyak orang yang membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu.
Kenapa tidak kau berikan juga rasa cinta dan sayangmu pada mereka?


Biarlah Allah yang memertemukanmu dengan jodoh terbaikmu.
Di tempat yang indah, di saat yang berkah.
Saat kau dan dirinya sama-sama ingin membangun cinta karenaNya.


Selamat Move ON, 
Allah bersama orang-orang yang memperbaiki diri.



**ditulis oleh Setia Furqon Kholid melalui akun Facebooknya, pada tanggal 2 Januari 2015.

Jumat, 09 Januari 2015

Jangan Sampai Dikatakan di Kalangan Muslimin



Ini kisah nyata yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.

Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!"

Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata,

"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya." tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mempercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku. Rupanya untaku terlepas dan merusak kebun milik laki-laki tua itu. Sungguh aku sangat marah. Segera kucabut pedangku dan kubunuh dia. Ternyata dia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya. Kami bisa mendatangkan saksi untuk itu." sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat." ujarnya. "Izinkan aku meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu," lanjut Umar.

"Maaf, Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggungjawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, 

"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah," ujarnya dengan tegas. "Namun ijinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku penangguhan tiga hari. Aku akan kembali untuk diqishash."

"Mana bisa begitu?" ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punya kah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin. Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji," kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabat pun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman," rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin."

Ternyata Salman al Farisi yang berkata demikian.

"Salman?" hardik Umar marah. "Kau belum mengenal pemuda ini. Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini."

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya," jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengijinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya. Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitu pun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir. Orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya pengqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketakwaan berjalan menuju ke tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak karena orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya."

Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

"Hh...Hh...maafkan...maafkan...aku...," ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira...urusan kaumku...menyita...banyak...waktu...Kupacu...tungganganku...tanpa henti...hingga...ia sekarat di gurun...terpaksa kutinggalkan...lalu aku berlari dari sana..."

"Demi Allah," ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

"Agar jangan sampai ada yang mengatakan...di kalangan Muslimin...tak ada lagi ksatria...tepat janji...," jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca. Sambil menahan haru, ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya," Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

"ALLAHU AKBAR!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, "Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu."

Semua orang tersentak kaget.

"Kalian...," ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian...?" Umar semakin haru.

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya," ujar kedua pemuda membahana.

"ALLAHU AKBAR!" teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan bagga oleh semua orang.
Termasuk kita di sini, saat ini.
Sambil menyisipkan rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu.

"ALLAHU AKBAR!"

La ila ha illa anta... Subhanaka inni kuntu minadzdzalimin...


Sumber: Grup WhatsApp---Kajian Dasar Islam Intensif (KDII) kelas siang.