Sabtu, 15 November 2014

Apa Kabar Hati? (part II)


Hati ini sesak dengan kebimbangan dan dibanjiri tanda tanya yang tertuju untuk diri sendiri. Setelah cukup merasa tertampar dengan buku karangan seorang ustad yang mualaf, aku tertarik pada buku lain karangan seorang muslimah yang anggun. Muslimah dengan jilbab ‘lebar’-nya ini memaparkan berbagai kisah nyata dari para perempuan, khususnya para istri, mengenai perjuangan mereka yang luar biasa dalam mempertahankan bahtera rumah tangga mereka masing-masing.
Berbagai macam kisah yang menggetarkan hati terangkum dalam buku itu. Buku kedua yang seolah menyampaikan salam-Nya untuk menegurku. Salah satu kisah dalam buku itu adalah mengenai seorang istri yang memperjuangkan rumah tangganya selama lima belas tahun, dengan sosok suami dambaan, sosok suami terbaik di seluruh dunia, menurutnya. Akan tetapi siapa sangka suami yang didamba-dambakan ternyata menjalin hubungan dengan perempuan lain, tanpa sepengetahuan sang istri, sudah tiga tahun terakhir.

Ah, tiga tahun. Bagaimana jadinya jika aku berada di posisi sang istri itu? Semoga Allah memberinya kekuatan untuk tetap percaya pada hikmah yang diselipkan-Nya.

Bentuk kisah lain yang digambarkan dalam buku itu adalah pengakuan seorang suami yang mengaku sama sekali tidak mencintai istrinya, padahal mereka telah memiliki empat orang anak. Bagaimana mungkin terlahir empat buah cinta tanpa adanya rasa cinta? Ya Allah, sungguh tiada yang benar-benar tau apa maksud yang Kau selipkan dalam setiap rencana terbaik-Mu. Rasaya sangat tidak mungkin seorang suami yang dulunya aktivis rohis kampus, dengan dalamnya ilmu agama, justru melakukan hubungan intim dengan perempuan lain di belakang istrinya. Juga bagaimana mungkin seorang suami yang seiring bertambahnya usia justru semakin bertambah kegilaannya, dengan memamerkan hubungan mesranya bersama perempuan-perempuan lain, di depan istrinya, bahkan di depan anak-anaknya. Astaghfirullah…
Padahal hampir seluruhnya dari kisah-kisah itu dimulai dengan keharmonisan dan kemesraan yang sang suami tunjukkan untuk istrinya. Ya, untuk sang istri. Seorang perempuan yang seharusnya menjadi ratu di dalam rumah tangga itu. Hanya Allah Yang Maha Mampu Membolak-balikkan Hati.

Siapa sangka keromantisan itu akan sirna dan berubah menjadi tantangan besar dalam hidup seorang perempuan?

Terdapat beberapa kisah lain yang seolah memancing hati kecilku, yang juga seorang perempuan, untuk memberontak dan teriak. Semoga Allah memberikan kekuatan yang tiada batas kepada para perempuan yang memperjuangkan rumah tangga mereka, meski sang suami membuat keadaan itu timpang.

Telah hilangkah rasa cinta seorang suami terhadap istrinya setelah bertahun-tahun hidup bersama? Atas alasan apa? Ah, cinta. Manusia mana yang benar-benar mengetahui arti rasa itu sesungguhnya?

Dua buku yang baru saja kulahap itu memunculkan banyak pertanyaan untuk diriku sendiri. Betapa tidak mudahnya mempertahankan sebuah rumah tangga. Terlebih lagi jika suami tak lagi mempedulikan keberadaan sang perempuan, sebagai istrinya. Mereka yang sudah terjalin ikatan suci pernikahan saja masih mendapatkan perlakuan tidak terpuji dari sang suami. Bukankah ketika meminang sang istri, suami tersebut melafalkan janji yang seharusnya ia tepati dan ia bawa sampai mati?

Ah, janji.

Membicarakan janji seorang lelaki, bukan tidak pernah aku mendengar sang pacar mengucap janji. Pacarku juga kan seorang lelaki! Jika yang sudah berumah tangga saja masih berpeluang menerima perilaku yang tidak bermartabat itu, apalagi aku yang hanya sebatas pacaran? Ya, kutegaskan sekali lagi, hanya p-a-c-a-r-a-n.
Aku mencoba merangkum dan menarik benang merah dari dua buku yang penuh makna itu. Sepertinya memang tiada manfaat yang didapat dari pacaran.

Ada yang memperhatikan setiap hari. Ada yang menemani untuk pergi ke sana kemari, terutama ke beberapa undangan penting. Ada yang melindungi. Ada pundak yang siap menjadi sandaran. Ada telinga yang siap mendengarkan keluh kesah. Ada yang memotivasi menggapai mimpi.

Begitukah? Tidak. Sekali pun iya, apakah semua itu akan menjamin ia tetap setia dan tidak mengubah sikapnya setelah berpuluh-puluh tahun lamanya menjalani hidup bersama? Pacaran hanya akan merugikan kaum perempuan, katanya.

Lelaki diciptakan dengan naluri mengembara, yang hanya akan berlabuh dalam ikatan pernikahan.

Sebuah kalimat dalam salah satu buku itu membuatkku tertegun. Pertengkaran-pertengkaran kecil bukan tidak pernah terjadi dalam hubunganku dengan sang pacar. Bertengkar karena masalah perempuan lain? Ah, tidak hanya sekali atau dua kali sepertinya. Beberapa kali kudapati adanya perempuan lain yang masuk dalam hubungan ini, baik melalui pesan singkat atau melalui media sosial. Dari mulai janji bertemu hingga kirim-kiriman pesan suara dengan perempuan lain rasanya pernah membumbui hubungan ini selama hampir tiga tahun. Adakah alasan aku menepis kalimat bercetak miring itu?

Jika dia berani membantah Allah dengan mengajakmu pacaran (padahal Allah tidak menghalalkan, bahkan tidak menganjurkan hamba-Nya berpacaran), maka bukan tidak mungkin dia akan mengajak orang lain berpacaran, bahkan ketika kau telah ‘sah’ menjadi miliknya. Toh sama saja berbuat dosa kepada Allah. Jika dia berani memanggilmu sayang (padahal Allah tidak menghalalkan panggilan itu untuk yang bukan mahram), maka bukan tidak mungkin dia akan memanggil sayang kepada orang lain, bahkan ketika kau telah ‘sah’ menjadi miliknya. Toh sama saja berbuat dosa kepada Allah. Aku sudah terlanjur berbuat dosa sejak pacaran dulu, mungkin akan seperti itu katanya.

Ah, kalimat panjang itu kembali membuatku tertegun, bahkan lebih lama dari sebelumnya. Bukan tidak pernah aku memergoki sang pacar bersayang-sayangan dengan perempuan lain, bahkan panggilan ‘mamih-papih’ pun pernah menjadi sebutan akrab antara sang pacar dengan perempuan lain. Terluka? Tentu saja. Tapi yang perlu aku garis bawahi di sini adalah lelaki itu pacarku, bukan suamiku.

Calon suami?

Hhhmm, ingin rasanya aku menjawab, Ya. Bagaimana tidak, kurasa hampir semua perempuan seusiaku sudah bukan waktunya lagi menjalin hubungan sia-sia, selain untuk merajut mimpi ke jenjang yang lebih tinggi.
Tapi kembali hati ini dibanjiri pertanyaan-pertanyaan lain. Jika masih menjadi pacar saja semua ini pernah terjadi, apakah kelak ketika ia menjadi suami, ia akan melakukan hal yang jauh lebih parah daripada yang selama ini terjadi? Wallahu’alam. Naudzubillah min dzalik...

Jaga kehormatanmu, raih kemuliaanmu. Pacaran hanya akan merugikan kaum perempuan. Ingat, laki-laki dilihat dari masa depannya, sedangkan perempuan dilihat dari masa lalunya.

Ah, merasa tertampar untuk kesekian kalinya. Sesak sekali! Sebagai seorang perempuan, jelas terasa aku tak pandai menjaga kehormatan. Berpegangan tangan, duduk berdekatan, berbonceng motor dengan tanganku yang melingkari pinggangnya, ah… Sebelumnya aku tiada merasa khawatir dan menganggap hal-hal itu adalah wajar. Betul rasanya bahwa setan sangat lihai mengelabui manusia. Semua terasa indah sekali, seolah tiada yang salah. Tanpa disadari, semakin sering bersama, semakin tumbuh perasaan yang tidak seharusnya, untuk sosok yang sebenarnya belum menjadi mahram.

Bukan tidak mungkin sang suami kelak akan bertanya, “Bunda, aku cintamu yang keberapa? Apa saja yang pernah kau lakukan dengan mantan pacarmu, Bunda?”

Ya, tiada yang benar-benar tahu, apakah sang pacar yang akan menjadi suamiku kelak? Atau hubungan ini akan kandas dan kami jatuh cinta pada orang lain serta membangun rumah tangga masing-masing? Wallahu’alam.

Jangan tanyakan lagi apa kabar hatiku saat ini. Berbagai pertanyaan mewarnainya hingga terasa tak jelas lagi apa warna hatiku saat ini. Berbagai perasaan memenuhinya hingga terasa begitu sesak. Seolah menjadi ring tinju yang pas untuk pergulatan antara rasa dan logika.

Malu. Malu kepada Allah karena aku belum menjadi hamba-Nya yang benar-benar mencintai-Nya, karena aku berbagi rasa cinta itu dengan manusia ciptaan-Nya, yang bahkan belum menjadi mahramku.

Khawatir. Khawatir pada segala janji dan rasa yang pernah sang pacar ungkapkan selama ini, bahkan segala bentuk perhatian yang juga hampir selalu ia tunjukkan, akankah menguap seiring berjalannya waktu?

Takut. Takut dengan bayang-bayang suamiku kelak (yang mungkin adalah lelaki yang berbeda dari lelaki dalam hubungan yang kujalin saat ini), akankah ia dapat menerima dan tetap menghormatiku meski aku tidak semulia muslimah-muslimah lain yang menjaga rasa cintanya hanya untuk Sang Pencipta?

Bimbang. Bimbang karena meskipun sederet bumbu tak sedap pernah tertuang dalam hubungan yang kujalin saat ini, bahkan setelah membaca kedua buku itu, aku masih belum mampu memantapkan hati untuk menyudahi hubungan ini.

Sedih. Sedih karena aku pun harus mengakui betapa rasa ini tumbuh begitu saja untuk seorang lelaki dalam hubungan yang kujalin selama hampir tiga tahun terakhir ini. Ya, tidak munafik, aku menyayanginya. Bahkan mungkin lebih dari apa yang lelaki itu tahu. Sang pacar juga bukan hanya sekali mengatakan betapa ia sangat menyayangiku. Tetapi semakin kuyakini perasaan ini, semakin terasa sakit tamparan yang mendarat di pipi, lebih tepatnya menusuk hati. Terlebih lagi ketika teringat satu kalimat, bahwa:

Ucapan sayang tidak menyelamatkan wanita dari kerugian.


Ah, pedih! Lalu aku harus apa dan bagaimana? Ya Allah, semoga aku selalu berada dalam perlindungan-Mu yang tanpa cela. Jika memang yang terbaik untukku (menurut-Mu) adalah dengan menghapus rasa ini untuknya, tolong ajarkan aku melakukannya. Maafkan aku karena aku telah membagi cinta yang seharusnya saat ini hanya kuberikan kepada-Mu, wahai Sang Maha CINTA...

*tulisan ini diambil dari tumpukkan file-file dalam folder laptop pribadiku, tertanggal 30 Maret 2013.

Dia Menyapaku (part I)


Aku seorang muslimah berusia sekitar 20-an tahun. Entah memang waktu-Nya yang tepatkah untuk memberiku hidayah saat ini? Inikah saatnya Dia, Allah SWT, menyapa atau mungkin lebih tepatnya menegurku? Wallahu’alam.
Berawal dari sebuah buku menarik yang kubaca beberapa hari lalu. Karangan seorang ustad muda keturunan Tionghoa, seorang mualaf. Gambaran nyata dunia saat inilah yang mendorongnya untuk mengangkat cerita mengenai hubungan lawan jenis yang belum halal, katanya.
Tak peduli berapa umur setiap individu saat ini, pasti mengenal panggilan sayang untuk ‘hubungan lawan jenis’ itu. Pacaran namanya.
Sebagai seorang muslimah, aku menggolongkan diriku sebagai hamba-Nya yang biasa saja. Aku mengenakan jilbab, meskipun hanya ‘jilbab standar’, kata mereka.

Ah, apalah arti jilbab?
Apakah hanya kain sederhana sebagai penutup kepala?

Banyak orang yang tak lagi percaya bahwa perempuan yang berjilbab menandakan bahwa ia perempuan ‘baik-baik’. Bukan salah mereka yang menilai. Realita kehidupan saat ini memang mendukung pemahaman mereka. Tak jarang perempuan berjilbab tertangkap basah sedang mencuri, membuang atau membunuh anaknya sendiri, kalap terhadap suaminya karena dibakar rasa cemburu, bahkan tanpa rasa malu mempertontonkan kemesraannya dengan lawan jenis di depan umum, padahal belum mahram.
Sedih memang... Padahal sampai detik ini, aku adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang percaya bahwa jilbab merupakan salah satu tameng yang mampu melindungi diri dari perbuatan-perbuatan tidak terpuji. Tapi bagaimana pun pendapat mereka, aku memutuskan mengenakan jilbab karena aku percaya ini memang kewajiban yang ditetapkan dalam ajaran Islam, agama kebanggaanku, karena Allah menyayangiku. Ya, Allah selalu menyayangi hamba-Nya.
Tanpa dipungkiri, sebagai seorang muslimah, ibadahku pun masih jauh dari sempurna. Meskipun aku selalu ingin menjadi hamba yang sangat dicintai-Nya karena ibadah dan akhlak yang baik. Tanpa berniat untuk merasa ‘sok suci’, tapi sungguh setiap manusia yang mampu berpikir tentu sangat mendambakan cinta dan kasih sayang-Nya yang Maha Sempurna.
Sebagai seorang muslimah, hal lain yang membuatku sangat malu kepada-Nya saat ini adalah karena aku pacaran. Ya, aku seorang muslimah, tetapi aku pacaran. Padahal dalam ajaran agama Islam tiada mengenal pacaran.
Ah, buku itu... Buku tentang pacaran itu seolah memberikan tamparan keras di pipiku dan meremas-remas hati kecil di dalam diriku. Buku berwarna merah jambu itu telah menyadarkanku bahwa Islam memang agama terindah dari Allah yang telah mengemas aturan-aturan hidup secantik mungkin. Aturan hidup itu dikemas dengan sangat rapih untuk memuliakan setiap manusia yang percaya akan agama-Nya.

Pacaran itu hanya akan mendekatkan kita kepada zina. Padahal zina adalah salah satu dosa besar yang sangat dibenci Allah.

Di usiaku yang masih tergolong dewasa awal, mungkin mempengaruhi pola pikirku yang sangat minim mengenai kedewasaan, tepatnya mengenai pandangan hidup. Sebelumnya aku justru merasa bangga karena aku memiliki seorang pacar yang sangat menyayangiku, katanya. Hubungan ini sudah kami jalin hampir tiga tahun lamanya.
Mungkin sama seperti perempuan-perempuan lain pada umumnya, aku merasa bahagia saat bersamanya, merasa tidak bisa jauh darinya, selalu harap-harap cemas hanya karena menanti pesan singkat darinya hampir setiap hari dan selalu takut dirinya tertarik pada perempuan lain selain aku. Seolah merupakan sebuah prestasi, aku merasa bangga ketika sang pacar menggenggam erat tanganku di depan teman-temanku dan teman-temannya, menatap wajahku lekat, menyatakan betapa dirinya sangat menyayangiku. Aduhai, bahagia sekali rasanya. Sungguh indah. Orang-orang bilang ini perasaan cinta.

Ah, benarkah ini yang dinamakan cinta? Wallahu’alam.

Tapi buku manis berwarna pink itu membangunkanku dari segala bentuk mimpi indah yang beberapa tahun ini aku rasakan. Aku terbangun dari mimpi itu dengan penuh rasa bimbang dan sesal. Melalui buku itu sang penulis menyampaikan dengan kesungguhannya betapa ia ingin menyelamatkan saudara-saudara muslim dan muslimah dari bahaya pacaran. Suatu jalan yang teduh menuju perzinaan yang telah diperindah dengan merdunya nyanyian setan, katanya.

Apakah aku sepenuhnya terbangun? Atau aku akan terlena dengan mimpi indah yang kurajut sendiri? Hhh, dengan bantuan setan tentunya.

Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan untuk membaca buku yang sangat kaya ilmu itu...


*tulisan ini diambil dari tumpukkan file-file dalam folder di laptop pribadiku, tertanggal 30 Maret 2013.

Sabtu, 08 November 2014

Persahabatan dalam Perantauan

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi


Bersenang-senanglah
Karena hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karena waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua


Reff:
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan


Yap!
Lirik di atas adalah lagu dari SheilaOn7 yang judulnya, "Sebuah Kisah Klasik".
Lagu itu dirilis sekitar tahun 2000.
Wew! Kira-kira 14tahun yang lalu.

Lagu yang dirilis oleh Band asal Yogyakarta itu, menyapa telingaku lagi dengan sangat ramah, kira-kira dua hari sebelum Hari Wisuda.

Kalian pernah enggak ngerasa jadi inget sama seseorang kalo lagi dengerin lagu tertentu?

Pernah.

Bagus!
Aku ngerasain waktu itu.
Dibikin galau tingkat dewa gara-gara lirik lagu!
Langsung googling tentang lagu itu. Download. Terus dengerin berulang kali!

Lagu "Sebuah Kisah Klasik" itu ngingetin aku sama seorang wanita kesayangan yang saat ini udah balik ke kampung halaman.

Seorang wanita kesayangan yang udah ngabisin waktu kurang lebih 4,5tahun bareng-bareng di bangku kuliah.

Seorang wanita kesayangan yang selalu jadi partner ngebolang, nge-junk food, ngerumpi, nge-es krim, nge-FTV di kamar kosan,  nge-date sambil buka puasa bareng di kamar kosan, nguli-ah (ngebut ngerjain tugas-tugas kuliah), nge-boring sambil nunggu dosen buat bimbingan, nguatin buat tetep optimis maju daftar sidang, dan sebagainya!

4,5tahun! Terlalu banyak memorinya..

Ah, bahkan ngetik ini pun bikin mau netesin air mata!

Waktu itu,
dua hari menjelang wisuda, aku baru sadar kalo ia akan kembali ke kampung halaman tepat di Hari Wisuda!

Artinya, Hari Wisuda nanti adalah hari terakhir aku ketemu sama dia (seenggaknya, sebelum bikin janji untuk ketemu di lain waktu).

Aku baru menyadari itu saat aku cuma punya waktu dua hari!

Enggak nyangka, setelah Hari Wisuda nanti, aku akan dipisahkan oleh jarak beratus-ratus kilometer (Jakarta-Cirebon).
Enggak nyangka, setelah Hari Wisuda nanti, aku enggak akan bisa lagi dengan mudahnya ketemu, ngebolang, nge-junk food, ngerumpi, ataupun sekedar nikmatin weekend bareng di kamar kosan.

Rasanya mirip-mirip kayak putus sama pacar!
Sedih...
Enggak nyangka harus dipisahkan secepat itu.

Akhirnya, aku mencoba 'memutar' otak.
Apa yang bisa aku buat dalam waktu menjelang dua hari lagi?
Saat itu kondisinya pun banyak hal yang harus dipersiapkan untuk wisuda, seperti kebaya, make-up dan sebagainya.

Sempat terpikir untuk bikin semacam Movie Maker dengan lagu SheilaOn7 itu sebagai backsound-nya. Tapi, aku enggak ahli di bidang itu. Lagipula, berkreasi dengan tangan sendiri kayaknya lebih seru!

Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan ia sebuah album foto. Berharap album foto itu bisa membantu mengabadikan moment-moment yang udah pernah kami lewatin bareng-bareng.

Jeng-jeng!
Inilah penampakan cover album fotonya...




Album foto biasa, yang aku beli di salah satu toko, di sebuah Mall deket kampus.

Album foto itu seenggaknya merangkum beberapa moment kebersamaan, tentang sebuah persahabatan di kota perantauan(-nya).

Saat aku menanyakan,
"bagian mana yang menjadi favoritmu dalam album foto itu?"

Ia mengirimkan kedua foto ini via WhatsApp.

Favorite 1:
Ini adalah foto di Ruang Perpustakaan Jurusan di Kampus, tanggal 21 Februari 2014 lalu.



Ia bersama beberapa wanita kesayanganku yang lain, merencanakan sebuah Surprise Party karena hari itu bertepatan dengan Hari Ulang Tahunku.
Masih terekam jelas dalam memori, aku digiring oleh teman-temanku menuju Ruang Perpustakaan Jurusan sesaat setelah kami selesai menandatangani ijazah S1 kami.

Favorite 2:
Ini adalah foto aku bersamanya, tepat di Hari Sidang Skripsi.



Yap!
Seragam hitam putih.
Foto ini menjadi bukti bahwa kami telah berhasil mencapai salah satu impian kami... SIDANG SKRIPSI! Demi meraih gelar sarjana kami...

Sampai detik ini pun, masih melekat rasa haru tiap kali membuka memori itu.
Dulu, kami sangat pesimis dapat menyelesaikan jenjang S1 kami tepat waktu.

Sempat ingin menyerah dan mengambil resiko untuk mundur satu semester lagi.
Tapi kemudian kami mencoba saling menguatkan diri.

"Berjuang sampai titik akhir", itu janji kami...
(ketika seolah hanya keajaiban yang bisa membawa kami ikut SHP di semester 099)


Ah!
Sungguh tak terbayarkan rasanya..
Melangkah, berjuang bersama..
Mengubah impian, menjadi kenyataan.
Saling menguatkan, saling mendoakan.



Seorang Partner Seperjuangan
Terima kasih kepada Siti Hajjar atas hangat pelukan, senyuman, dan dukungan selama pasang surut proses penyelesaian skripsi ini.
“Kalau kita bisa wisuda bareng nanti, gue akan jadi orang pertama yang meluk lo dengan penuh rasa bangga!”, merupakan janji yang sempat kuucapkan padanya ketika kami hampir menyerah.

Dan kini, kami membuktikan bahwa kami berhasil meraih salah satu impian kami. Alhamdulillah. Skripsi ini kupersembahkan untuknya semoga dapat mewakili ucapan terima kasih yang luar biasa, spesial untuknya, wanita yang juga luar biasa.


Kalimat di atas adalah kutipan dalam sebuah Lembar Persembahan (skripsi).
Aku memberi ruang secara khusus, untuknya...
Seorang Partner Seperjuangan!

Kala itu, di Hari Wisuda, aku memeluknya dan memberikan bingkisan album foto untuknya.
Dengan penuh rasa bangga, tentunya!

"Kalo mau buka ini, harus sambil dengerin lagu SheilaOn7 yang judulnya 'Sebuah Kisah Klasik' ya!", pintaku.

Dan,
bagian ini adalah bagian akhir dalam album foto itu.



Jadi, awalnya ini adalah halaman kosong (tanpa foto).
Beberapa waktu lalu, aku memintanya mengirimkan foto albumnya.
Sekarang, halaman ini sudah tidak kosong lagi.
Dan,
ternyata sesuai dugaanku!
Dia cantik dengan kebaya dan toganya...



Kini,
Selain jarak sekitar 231km yang secara terang-terangan memisahkan kami,
Aktivitas kerja pun memaksa kami untuk semakin sulit berkomunikasi.

Ah,
aku rindu bersenda gurau,
berbagi tawa dan canda,
bercerita semua hal yang seolah tak ada akhirnya,
menghabiskan weekend di kamar kosan, walaupun cuma sekedar bermalas-malasan...

Ya Allah,
terima kasih telah mengijinkanku mengenalnya...
lindungi ia dalam setiap langkahnya...
berkahi ia dalam setiap karyanya...
tolong sampaikan salamku untuknya, betapa aku merindukan saat-saat bersamanya...

Rabu, 29 Oktober 2014

Siswa Berwajah Oriental itu Menangis

Ketika aku sedang tenggelam dalam tumpukkan berkas-berkas rekapitulasi kehadiran siswa, Bapak Kepala Sekolah menghampiriku dan berkata,
"Bu, tolong ditangani anak ini. Namanya R*****."

Mataku pun langsung aktif mendeteksi keberadaan siswa itu---memperhatikan segala penjuru ruang guru karena saat itu tak terlihat ada siswa di samping Bapak Kepala Sekolah. Sesaat setelah itu, ada salah seorang siswa kelas XII yang masuk ke ruangan. Tapi yang aku tau, dia bernama R***, bukan R*****. Nah loh? Sama-sama dari huruf R sih namanya, tapi beda jumlah hurufnya. Yap! Serupa tapi tak sama.

**Ngomong-ngomong, maaf menyembunyikan nama. Demi menjaga nama baik siswa yang bersangkutan.

Awalnya, aku pikir Bapak Kepala Sekolah salah menyebutkan nama. Aku menghampiri R*** dan bertanya, "Ada apa, R***?"

"Enggak, Bu. Cuma mau ngambil LKS." kemudian ngeloyor pergi keluar ruangan.

Aku pasang tampang cengok. Bingung.
'Ini yang dimaksud sama Bapak Kepala Sekolah tuh siapa ya?' batinku.

Aku pun keluar ruangan untuk memastikan. Siapa tau saja bisa menemukan sosok lain di sana. Ups. Sosok siswa lain maksudnya. Ternyata benar! Ada siswa berwajah oriental berdiri di depan pintu ruang guru. Ganteng! Eh. Hem, iya dia memang ganteng. Serius.

"Kamu namanya siapa?" tanyaku.

"R*****." jawabnya singkat dengan wajah terlihat kesal.

Nah, ini dia yang dimaksud sama Bapak Kepala Sekolah! "Ada masalah apa?" tanyaku lagi.

"Tau tuh! Tadi saya lagi nulis. !@#$%^&*()...." jawabnya panjang lebar nggak karuan dengan nada yang ditinggikan. Sejujurnya aku bingung. Nggak ngerti maksud penjelasannya. Sebelum siswa itu selesai bicara, Bapak Kepala Sekolah keluar dari ruang guru dan bilang,
"Ini Bu, tolong ditangani. Omongannya tidak sopan."

"Apaan sih, Pak? Orang saya lagi nulis..." jawab siswa itu membela diri, (tetap) dengan nada bicaranya yang terkesan nyolot.

"Hey, kamu tuh sekolah di sini bicaranya kok begitu! Panggil aja Bu orang tuanya!" tambah Bapak Kepala Sekolah, terlihat tidak mau kalah nada tingginya. Sempat terjadi adu mulut antara dua makhluk itu hingga akhirnya Bapak Kepala Sekolah bilang, "bawa aja Bu ke Ruang BK!"

Aku pun naik ke lantai dua menuju ruang BK, diikuti oleh siswa berwajah oriental itu di belakangku. Ketika merasa sudah dalam posisi duduk yang nyaman untuk ngobrol, aku pun membuka pembicaraan dengan kepo-in masalah antara siswa berwajah oriental itu dengan Bapak Kepala Sekolah.

Siswa berwajah oriental itu menceritakan bahwa awalnya dia mengeluarkan celetukan ringan di dalam kelas saat Bapak Kepala Sekolah bilang,
"Bapak tinggal dulu ya sebentar".

"Lama juga nggak apa-apa, Pak." kata siswa berwajah oriental itu, disambut oleh tawa teman-teman di kelasnya.

Yah, begitu lah! Nggak sedikit siswa yang memang suka nyeletuk-nyeletuk ringan disela-sela jam pelajaran. Aku pribadi sih menganggapnya wajar karena sepertinya itu adalah obat penawar kebosanan mereka setelah duduk berjam-jam di dalam kelas untuk belajar. Biasanya, dalam kondisi yang seperti itu, aku akan menanggapi santai, selama mereka tidak berlebihan.

Melalui cerita yang disampaikan oleh siswa berwajah oriental itu, (menurutku) celetukannya membuat Bapak Kepala Sekolah menoleh, memperhatikan dirinya. Malangnya, perhatian tersebut membuat Bapak Kepala Sekolah menyadari bahwa siswa berwajah oriental itu memakai gelang di tangannya. Padahal, peraturan sekolah menyatakan bahwa siswa laki-laki tidak diperbolehkan memakai gelang, kalung, cincin dan semacamnya.

Bapak Kepala Sekolah pun meminta siswa berwajah oriental itu menyerahkan gelangnya. Akan tetapi siswa berwajah oriental itu menolak karena mengaku gelang tersebut adalah pemberian mamanya. Ia hanya melepaskan gelang itu dan menaruh di kantong baju seragamnya sambil mengatakan,
"Iya Pak, saya nggak pake lagi, tapi jangan diambil Pak."

Ternyata jawaban siswa berwajah oriental itu tidak membuat Bapak Kepala Sekolah puas. Bapak Kepala Sekolah justru memaksa siswa berwajah oriental itu untuk menyerahkan gelangnya, dengan cara menarik-narik kantong baju seragamnya. Siswa berwajah oriental itu pun menjadi emosi dan akhirnya mengeluarkan gelang tersebut dari kantongnya.
     
"Tuh deh Pak, ambil aja!" kata siswa berwajah oriental itu menirukan kembali adegan dramatis di kelasnya. Terlihat sangat jelas kesan nyolot dari ucapannya. (Mungkin) Bapak Kepala Sekolah nggak terima dengan sikap siswa berwajah oriental itu, kemudian mengusirnya keluar kelas. Yap! Di sinilah kami berdua sekarang (baca: ruang BK).

Semula, siswa berwajah oriental itu masih berusaha menahan tangisnya. Tapi kalian tau? Pada akhirnya siswa berwajah oriental itu menangis sesenggukan sambil menceritakan kronologisnya sampai akhir. Emosinya terlihat jelas! Aku pun harus berusaha keras mencerna setiap kata yang diucapkannya disela-sela isak tangis siswa berwajah oriental itu.



"Saya nggak mau dipanggil orangtua, Bu! Saya malu! Mending saya nggak usah sekolah aja kalo harus dipanggil orang tua! Cuma gara-gara gelang doang Bu, saya harus dipanggil orang tua?" itu sebagian kecil kalimat yang ia ucapkan dan terekam jelas di memory-ku, termasuk ekspresinya saat berusaha mengatur irama nafas diantara nada unik isak tangisnya.

Oke. Setelah merekam kronologis ceritanya dalam otak, waktunya aku untuk kepo-in tentang siswa berwajah oriental itu. Heh. Bukan kepo-in yang aneh-aneh loh maksudnya...

Melalui hasil kepo, aku jadi tau bahwa siswa berwajah oriental yang ada di hadapanku adalah seorang pelatih karate di Brimob. Wow! Seorang pelatih karate yang cute dengan wajah orientalnya, menangis. Yap! M-E-N-A-N-G-I-S.

Iya. Siswa berwajah oriental itu sudah berlatih karate sejak ia kelas 2 SD. Nggak heran kalo di usianya yang sekarang, ia sudah menjadi seorang pelatih. Melalui aktivitasnya itu pula, ia jadi bisa punya penghasilan sendiri. Cool!

Usaha kepo itu pun memberiku informasi lain. Siswa berwajah oriental itu adalah anak satu-satunya dan orang tuanya telah bercerai. Hingga saat ini, ia hanya tinggal berdua dengan mamanya.

Hem, siswa berwajah oriental itu agak menutup diri ketika aku menyinggung tentang kehidupan pribadinya. Bahkan, ia terlihat kembali berusaha menahan tangisnya.

"Kamu kayaknya emosional banget kalo bahas tentang mama. Sayang banget ya sama mama?" tanyaku sok lugu. Tangis siswa berwajah oriental itu pun pecah (lagi). Iya, L-A-G-I! Bahkan semakin jelas terlihat ia berusaha untuk mengatur nafasnya agar tetap stabil.

Ketika aku bertanya, "Mama kerja?"

"Iya, Bu. Guru di SLB (baca: Sekolah Luar Biasa)."

Subhanallah...

"Wow! Pasti mama itu orang yang luar biasa sabar ya? Beliau mengabdikan diri di sebuah Sekolah Luar Biasa." kataku, disambut oleh senyum yang ia selipkan diantara tangisannya. Senyuman itu seolah mewakili perasaan cintanya terhadap Sang Mama. 

Ya Allah...
Itukah yang membuatnya sangat alergi dengan pemanggilan orang tua ke sekolah?
Karena tak ingin melukai perasaan Sang Mama, itukah alasannya?
Itukah yang membuatnya menangis bagaikan bendungan yang pecah?

AllahuKareem...
Tak terbayangkan bagaimana rasanya hanya tinggal berdua dengan Mama. Menjadi anak satu-satunya dan korban dari perceraian orang tua.
Keadaan seakan memaksanya menjadi pribadi yang kuat---seorang anak lelaki yang menjadi pelindung bagi mamanya. Bolehkah ia menangis?
Kalau pun boleh, kurasa ia tidak memberikan toleransi bagi dirinya sendiri untuk menangis di depan mamanya.

Ya Allah...
Bimbinglah ia agar terus berada dalam jalan lurus-Mu.
Berikanlah perlindungan-Mu Yang Maha Sempurna untuk ia dan mamanya.
Kuatkan mereka...
Limpahkan keberkahan-Mu untuk mereka...



Setelah aku memberinya waktu untuk menenangkan diri, aku mengajaknya diskusi untuk mencari titik kesalahannya dari drama yang dilakoninya dengan Bapak Kepala Sekolah. Kemudian kami mencoba menarik kesimpulan tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.

"Oke, kamu boleh kembali ke kelas. Cuci muka dulu ya!" kataku, disambut dengan wajahnya yang merona menahan malu, kemudian pamit meninggalkan ruang BK.

Sesaat setelah itu, aku refleks tersenyum.

Ada perasaan aneh yang menggelayut manja dibalik sebuah senyum.

Semacam rasa bahagia, lega, atau bangga. Entahlah! Ada suatu rasa, saat orang lain bersikap sangat terbuka---mempercayaiku untuk mendengarkan ceritanya, bahkan mengijinkanku untuk melihat air matanya.

AllahuAkbar...
Aku jatuh cinta.
Jatuh cinta pada seknario-Mu Yang Maha Sempurna.


Sssttt... I LOVE MY JOB!

Jumat, 17 Oktober 2014

"Akhwat BENERAN"

Hari ini aku baru aja balik ke rumah setelah semalam enggak pulang.
*Loh, kemana? Tidur dimana luh?

Dari Hari Kamis pagi, aku berangkat ke Ciawi sebagai pendamping para siswa dalam kegiatan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa).

Acara yang seru dan menyenangkan!
Alhamdulillah, Allah kembali menunjukkan kemurahan-Nya memberiku kesempatan merasakan hangatnya kekeluargaan diantara guru-guru sekolah itu, baik guru SMA, SMK maupun SMP (kebetulan kegiatan LDKSnya digabung, termasuk kamar untuk para guru pendamping).

Melalui kegiatan LDKS selama dua hari satu malam itulah aku belajar lebih mengenal guru-guru dan siswa-siswa dari unit lain (SMK dan SMP).
Sempat keliatan juga betapa jauh lebih aktifnya siswa-siswa SMK dibandingkan siswa SMA.

"Wah, apa kabar kalo waktu itu aku diterima jadi guru SMK?" batinku.
"Aku bakal ngadepin anak-anak yang sangat sangat sangat luar biasa aktifnya! Bekerja jauh lebih keras dibandingkan sekarang, tentunya."

Alhamdulillah saat ini aku di SMA.
Sungguh Allah sebaik-baik pembuat rencana.

Disela-sela rangkaian acara LDKS,
Aku sempat ngobrol dengan salah satu guru muda (ya begitulah, aku dan bapak guru yang satu ini ngerasa kalo kami adalah guru SMA yang 'masih' muda---secara guru-guru yang lain adalah guru-guru senior).

Bapak guru ini adalah wakil kepala sekolah, bidang kesiswaan.
Bapak guru muda yang kece dan sukses membangun persahabatan dengan siswa-siswanya.
Keren!

"Ini baru akhwat beneran! Berikutnya kalo ada kegiatan Tafakur Alam, ikut ya! Kalo bisa sekalian jadi pembicaranya (baca: pengisi materi)." begitu katanya setelah selesai sarapan pagi tadi.


Aku bengong.
Bukan, bukan!
Bukan karena diminta jadi pendamping kegiatan (lagi) atau jadi pembawa materi.

Tapi kalimat pertamanya itu yang bikin aku seolah langsung menciut.

Akhwat 'beneran'?
Sekali lagi, Akhwat BENERAN?

Entah alasan apa yang bikin bapak guru muda itu bisa bilang demikian.

Masya Allah,
beberapa kali dipanggil dengan sebutan 'akhwat' pun aku merasa malu.
Malu karena merasa aku tidak pantas menerima sebutan itu.
Masih sangat banyak kecacatan dalam ibadahku.
Masih sangat sedikit ilmu agama dalam diriku.
Masih sangat jauh dari nilai 'cukup' untuk akhlaq-ku.

Dan kali ini, ada satu kata yang ditambahkan setelah sebutan 'akhwat' itu.
Satu kata yang menurutku begitu terasa penekanan di dalamnya!

Yap.
BENERAN.
Akhwat BENERAN!

Ya Allah,
Maafkan aku...
Aku sama sekali tak bermaksud melakukan tipu daya apa pun kepada siapa pun.
Sungguh Engkau Yang Maha Tau keadaan hamba-Mu ini.
Aku hanya seorang hamba-Mu yang diliputi kekurangan di berbagai sisi.

Semoga Engkau berkenan memberiku kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Semoga Engkau tak pernah bosan membimbingku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

APAKAH ALLAH MENCINTAIKU?

Apakah aku dicintai Allah?

Sungguh pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku.


Aku teringat bahwa kecintaan Allah terhadap hamba-Nya bukan datang seenaknya hamba, tapi karena sebab-sebab yang disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya.

Aku coba mentadabburi dan memutar file-file tentang hal itu yang terdapat di dalam Al-Qur'an.
Aku berusaha mengukur diriku terhadap ayat-ayat itu dengan harapan akan menemukan jawaban terhadap kegundahan ini.

Semoga aku termasuk ke dalam kelompok orang yang dicintai Allah.

1. Pertama sekali aku menemukan ayat Al-Qur'an yang mengatakan bahwa,


ALLAH MENCINTAI ORANG YANG BERTAQWA

Namun sayang, langsung batinku berkata dengan jujur...
"Aku tidak termasuk ke dalam golongan ini."


2. Langkah kedua, aku ketemu ayat yang mengatakan bahwa,

ALLAH MENCINTAI ORANG YANG SABAR

Dengan penuh pengakuan tulus, batinku langsung mengakui...
"Teramat jauh diriku dari kelas bergengsi ini."
Betapa aku tidak mampu bersabar dalam menghadapi segala hal.

3. Langkah ketiga, aku menemukan ayat yang mengatakan bahwa,

ALLAH MENCINTAI ORANG-ORANG YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH DI JALANNYA

Bukan sok tawadhu', batinku langsung terkulai mengakui...
"Betapa aku lebih banyak dikalahkan oleh rasa malas daripada bersungguh-sungguh."

4. Langkah keempat, aku menemukan ayat Al-Qur'an yang mengatakan bahwa,

ALLAH MENCINTAI ORANG YANG BERBUAT BAIK

Batinku pun tersenyum getir sambil merenung penuh insaf...
"Kebaikan apa yang sudah kulakukan? Aku masih punya malu untuk tidak mengaku-ngaku termasuk kelompok orang yang baik."



Di saat itu, aku berhenti merenung...

Aku takut!
Takut kalau-kalau aku tidak menemukan sifat di dalam diriku yang membuat Allah cinta kepadaku.

Kemudian aku mencoba untuk membuka lembaran amal apa saja yang pernah aku lakukan...

Namun, jangankan mendatangkan keoptimisan,
Telingaku memerah sendiri,
Keringat dingin mulai berkucuran...

Aku berusaha langsung melupakannya.

Aku malu dengan diriku sendiri.
Ternyata semuanya bercampur dengan kemalasan, kekurangan dan cacat.
Belum lagi perbuatan semata-mata itu dosa dan maksiat.

Ketika aku akan mengakhiri perenunganku,
tiba-tiba tanganku membalik mushaf Al-Qur'an yang berada di pangkuanku.

Saat itu mataku langsung tertuju kepada potongan ayat yang artinya,

"...SESUNGGUHNYA ALLAH MENCINTAI ORANG_ORANG YANG BERTAUBAT..." (QS. Al-Baqarah: 222)

Seolah-olah aku merasa kalau ayat itu diturunkan kepadaku saat itu untuk menghilangkan gundah di hatiku dan menimbulkan harapan kalau Allah juga cinta kepadaku.


Air mata haru tak bisa terbendung lagi...

Perasaan lembut menjalar dari hulu jantung sampai ke seluruh pori-pori tubuhku.

Hatiku bergumam, "ternyata aku juga dicintai Allah."

Aku sampai terisak menahan haru.
Aku pun mulai melantunkan kalimat istighfar.

Aku minta ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia,
Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur,
dan aku bertaubat kepada-Nya.

Aku betul-betul berharap,
meskipun aku jauh dari empat kriteria sebelumnya,
jangan sampai aku juga tersingkir dari kelompok orang yang terakhir ini.

"Orang yang bertaubat dari segala dosanya."

Ya Allah,
jadikanlah kami termasuk orang yang bertaubat dan jadikanlah kami termasuk orang yang mensucikan diri...

*diambil dari postingan Zulfi Akmal, Al-Azhar - Kairo.

Hijab Syar'i


Alhamdulillah, hijab syar'i kini mulai semarak dan mulai menjadi trend.
Ini adalah kebaikan dan kemuliaan.

Tapi setan enggak mau ketinggalan.
Dia terus berusaha tetap menyesatkan walau hijab sudah syar'i.

Setan menumbuhkan semangat di hati para muslimah untuk mengoleksi hijab syar'i dengan berbagai mode.
Serta membuatnya lupa dengan semangat memperbaiki akhlaq.

Setan menjeratnya dengan senang menumpuk-numpuk pakaian dan mengurangi sedekahnya.

Setan terus menumbuhkan semangatnya untuk tampil cantik dan syar'i namun melupakan diri untuk menambah ilmu agama.

Belum puas dengan itu,
setan menyemangati agar para wanita yang berhijab syar'i untuk hadir di majelis-majelis ta'lim dengan tujuan memamerkan koleksi hijab syar'i miliknya.

Setan pun semakin senang karena wanita muslimah sudah melupakan ilmu tawadhu dan kesederhanaan.
Hijabnya memang syar'i tapi mahalnya enggak ketulungan.

Wanita muslimah pun menabung sedikit-sedikit untuk beli hijab syar'i dan melupakan tabungan ke tanah suci.
Lupa menabung untuk qurban,
bahkan mudah menabung untuk beli baju daripada keluar untuk sedekah.

Ketika hijab syar'i yang baru dibelinya ada sedikit cacatnya, pikirannya resah penuh kecewa.

Setan telah membuatnya lupa dengan cacat sholatnya, cacat sedekahnya dan cacatnya baca Al-Qur'an.

Jika hijab syar'i yang dimilikinya memiliki keindahan sempurna, ia tidak siap menyedekahkannya.
Hatinya telah menikah dengan dunia dan bercerai dari Rabb-Nya.

Jika sudah demikian, masihkah punya keinginan untuk mengoleksinya?

Milikilah hijab syar'i seperlunya.
Sederhanakanlah penampilan.
Belilah yang harganya tidak terlalu jauh dengan harga kain kaffan.

Saat-saat begini, setan masih ingat satu hal.
Dia membuat wanita muslimah yang belum berhijab syar'i bergumam,
"Mendingan gue, walaupun belum berhijab syar'i yang penting kan hati gue."

Jawaban setan adalah,
"iyeee, hati elu sama aje! Maksudnye, sama ame gue..."
(baca: ngerasa punya hati suci dan bersih. Itu namanya ujub bin takabur.)
"Itu kan dosa pertama gue, sist... Hahaha. Sukses deh gue!"

*diambil dari postingan Awan Abdullah---Rumah Ta'aruf Taman Surga.